Kamala Harris Peringatkan Ancaman AI, Desak Pemerintah Segera Bertindak



KONTAN.CO.ID – SEOUL. Mantan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris mendesak pemerintah dan perusahaan teknologi untuk segera menetapkan perlindungan terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia memperingatkan, kesempatan untuk mengendalikan risiko paling serius dari teknologi tersebut semakin menyempit.

Dalam sebuah acara di Asan Institute for Policy Studies, Korea Selatan, Rabu (14/10/2026), Harris menekankan pentingnya keterlibatan pengembang AI dalam penyusunan aturan dan mekanisme pengamanan teknologi tersebut.

"Jika kita ingin memiliki aturan dan perlindungan, para pengembang AI harus dilibatkan dalam proses tersebut," kata Harris.


Baca Juga: Dolar AS Melemah, Pasar Menanti Data Inflasi dan Sinyal Suku Bunga The Fed

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya bahwa waktu untuk mengantisipasi risiko AI semakin terbatas.

"Kekhawatiran saya adalah kesempatan itu semakin menyempit," ujarnya.

Kamala Harris Soroti Tiga Ancaman Eksistensial AI

Harris menilai pemerintah dan perusahaan teknologi harus segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi tiga ancaman utama AI yang berpotensi membahayakan keberlangsungan manusia.

Ketiga ancaman tersebut meliputi risiko keamanan siber, penggunaan AI untuk mengembangkan senjata, serta kemungkinan sistem AI beroperasi di luar kendali manusia.

Menurut Harris, perkembangan AI membutuhkan pengawasan dan pengamanan yang memadai agar inovasi teknologi tidak menimbulkan risiko yang sulit dikendalikan.

Karena itu, pemerintah dan perusahaan teknologi dinilai perlu bekerja sama dalam membangun kerangka pengamanan yang mampu mengantisipasi ancaman sejak dini.

AS dan China Diminta Bekerja Sama Mengatur AI

Selain mendesak penguatan pengamanan AI, Harris meminta pemerintah AS membuka ruang kerja sama dengan China untuk menyusun aturan dan standar internasional terkait teknologi tersebut.

Ia menilai persaingan strategis antara Washington dan Beijing tidak seharusnya menghalangi kedua negara untuk bekerja sama menghadapi risiko yang menjadi kepentingan bersama.

"Ada ruang untuk bekerja sama ketika kepentingan kita sejalan," kata Harris.

Ia juga menyerukan persaingan yang sehat dan kuat di antara kedua negara tanpa berkembang menjadi konflik.

"Persaingan yang sehat dan kuat, tetapi bukan konflik," ujarnya.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik, Serangan Kapal di Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Pasokan

Menurut Harris, pendekatan tersebut penting mengingat dampak AI tidak terbatas pada satu negara. Perkembangan teknologi ini membutuhkan koordinasi internasional, terutama untuk menghadapi ancaman terhadap keamanan siber dan potensi penggunaan AI dalam persenjataan.

Kritik Tarif Trump dan Pentingnya Investasi Jangka Panjang

Dalam kesempatan yang sama, Harris mengkritik kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump yang disebutnya tidak konsisten dan bersifat menghukum.

Ia juga memperingatkan risiko pendekatan transaksional dalam kebijakan ekonomi dan hubungan internasional, yang menurutnya dapat mengurangi pengaruh AS di tingkat global.

Harris mempertanyakan apakah pemerintah hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek atau turut mempertimbangkan manfaat investasi untuk pertumbuhan jangka panjang.

"Pertanyaannya adalah, apakah kita hanya memikirkan jangka pendek, atau kita juga menghargai dan memahami pentingnya sebuah investasi untuk memperoleh keuntungan jangka panjang?" katanya.

Harris secara khusus memuji investasi Korea Selatan di sektor pembuatan kapal, semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi bersih di AS.

Ia menyebut investasi tersebut sangat penting dan bernilai besar bagi kedua negara.

"Investasi tersebut sangat signifikan dan sangat dihargai," ujarnya.

Pernyataan itu menegaskan pentingnya hubungan ekonomi lintas negara dalam mendukung pengembangan industri strategis, termasuk sektor teknologi dan energi bersih.

Harris Desak AS Perkuat Komitmen terhadap Korea Selatan

Harris juga menyerukan agar AS memperbarui komitmennya terhadap Korea Selatan di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kerja sama antara Korea Utara, Rusia, China, dan Iran.

Menurut dia, perkembangan hubungan di antara negara-negara tersebut menjadi alasan bagi AS dan Korea Selatan untuk memperkuat kemampuan pencegahan terhadap potensi ancaman keamanan.

Baca Juga: Trump Sebut Eksplorasi Besar-besaran Minyak dan Gas di Greenland Segera Dimulai

Kerja sama pertahanan kedua negara dinilai tetap penting untuk menjaga stabilitas kawasan, khususnya di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Harris Pertimbangkan Kembali Maju dalam Pilpres AS 2028

Di sisi politik domestik AS, Harris tengah berkampanye untuk mendukung kandidat Partai Demokrat menjelang pemilihan paruh waktu atau midterm elections pada 2026. Ia juga mempertimbangkan kemungkinan kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2028.

Harris memperkirakan Partai Demokrat akan meraih mayoritas kursi di Dewan Perwakilan Rakyat AS atau House of Representatives. Ia juga menilai partainya memiliki peluang besar untuk menguasai Senat.

Menurut Harris, kemenangan tersebut berpotensi memperkuat peran Kongres dalam menentukan arah kebijakan dalam negeri dan luar negeri AS, termasuk terkait perang dengan Iran.

Ketika ditanya apakah akan kembali maju dalam pemilihan presiden AS pada 2028, Harris mengatakan dirinya belum mengambil keputusan.

"Saya masih memikirkannya. Saya belum memutuskan," kata Harris.