Kampanye Deforestasi, Greenpeace Bebas Kepentingan



JAKARTA. Kampanye yang dilakukan oleh Greenpeace terkait deforestasi yang disebabkan oleh komoditas kelapa sawit tidak diboncengi oleh kepentingan apapun. Hal ini ditegaskan oleh Joko Arif, Forest Campaigner Greenpeace Asia Tenggara, Senin (1/6). Independensi ini tercuat melalui sumber pendanaan yang selama ini didapatkan dari individu atau perseorangan; yaitu dari lebih 3 juta orang di seluruh dunia yang melakukan donasi rutin per bulan, ditambah 30.000 individu dari Indonesia."Dengan tidak menerima donasi dari pemerintah dan perusahaan, kami menjaga independensi," tegas Joko. Ia mengimbuhkan, Greenpeace tidak mengorbankan reputasi sebagai organisasi penyelamat lingkungan dengan berkolaborasi dengan industri pesaing minyak sawit di Eropa. Joko menegaskan, kampanye yang belakangan marak dilansir oleh Greenpeace bertujuan untuk menghentikan perusahaan besar melakukan perusakan hutan yang telah sangat merugikan lingkungan Indonesia, mengancam keanekaragaman hayati dan masyarakat lokal yang hidupnya bergantung pada hutan, yang kemudian berdampak buruk terhadap perubahan iklim."Setelah Kementerian Pertanian dan Kementerian Kehutanan mengadakan pertemuan dengan Greenpeace beberapa waktu lalu, mereka menyatakan mengerti bahwa kampanye Greenpeace tidak anti industri kelapa sawit," tandas Joko. Nah, kini Greenpeace mendesak pemerintah dan dunia usaha untuk memajukan industri sawit dan meningkatkan taraf hidup petani kecil dengan cara melakukan intensifikasi demi mengerek produktivitas kebun sawit per hektar di lahan yang telah ada. Menurut Greenpeace, hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan moratorium atau jeda tebang hutan.

"Satu-satunya yang anti bagi Greenpeace adalah perusakan lingkungan yang dilakukan oleh oknum/perusahaan yang tidak bertanggung jawab," kata Joko.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: