Kanada Buka Pintu, Dominasi Mobil Listrik China Ancam Pabrikan AS



KONTAN.CO.ID - DETROIT. Ekspansi produsen mobil listrik atau electric vehicle (EV) asal China ke pasar global kian sulit dibendung. Terbaru, Kanada membuka pintu lebih lebar bagi kendaraan listrik buatan Negeri Tirai Bambu dengan memangkas tarif impor. Langkah ini dinilai bakal mempercepat laju dominasi merek China di industri otomotif dunia, sekaligus menambah tekanan bagi pabrikan Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Sejumlah analis menilai, keputusan Kanada ini bukan sekadar isu dagang bilateral. Ini adalah bagian dari pergeseran besar peta persaingan industri otomotif global, di mana China muncul sebagai kekuatan utama baru, terutama di segmen kendaraan listrik yang sedang tumbuh pesat.

“Ini membuka jalur yang jauh lebih mudah bagi produsen mobil China untuk menguasai pasar Amerika Utara,” ujar Mark Wakefield, Global Automotive Market Lead AlixPartners dalam laporan Associated Press (17/1). Ia memperkirakan merek-merek China bisa menguasai hingga 30% pasar otomotif global pada 2030.


Daya saing utama mobil listrik China terletak pada kombinasi harga murah, teknologi canggih, dan desain modern. Di pasar global, mobil listrik buatan China bisa dijual di kisaran US$ 10.000 hingga US$ 20.000 per unit. Bandingkan dengan harga mobil baru di AS yang rata-rata mendekati US$ 50.000 per unit.

Tak hanya murah, kendaraan China juga dikenal sarat fitur digital dan sistem konektivitas yang disukai konsumen. Dari sisi produksi, pabrikan China unggul dalam efisiensi manufaktur dan kemampuan membuat kendaraan lebih ringan, sehingga jarak tempuh baterai lebih panjang.

“Mereka berhasil memproduksi mobil kecil dan menengah dengan harga masuk akal,” kata Sam Fiorani, Vice President AutoForecast Solutions. Padahal, segmen ini justru sudah banyak ditinggalkan oleh pabrikan Barat yang lebih fokus ke SUV besar dan pikap.

Baca Juga: Nasib Yen, BOJ Terjepit Inflasi dan Tekanan Politik Takaichi

Barat tertinggal

Saat pasar global beralih ke kendaraan listrik, China justru melaju kencang. Pada 2025, penjualan EV dan plug-in hybrid di China tumbuh 17%, sementara di Eropa melonjak 33%. Sebaliknya, pertumbuhan penjualan mobil listrik di AS tahun lalu hanya sekitar 1%.

Di saat yang sama, banyak pabrikan AS justru mulai mengendurkan ambisi investasi besar-besaran di EV dan kembali mengandalkan mobil hybrid dan bensin yang lebih efisien, seiring perubahan arah kebijakan pemerintah AS yang kurang agresif mendorong elektrifikasi.

Dampaknya mulai terlihat. Tesla kehilangan status sebagai produsen EV terbesar dunia setelah pada 2025 hanya menjual 1,64 juta unit, kalah dari BYD China yang mencatat penjualan 2,26 juta unit.

Baca Juga: Maruti Suzuki Bangun Pabrik Raksasa, 1 Juta Mobil Baru Siap Diproduksi

Selanjutnya: Menanti Arah Suku Bunga BI, Cek Peluang Kenaikan IHSG Awal Pekan Ini

TAG: