Kanada Kucurkan Dana C$7 Juta untuk Proyek Tambang Molibdenum di Greenland



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah Kanada mengucurkan hibah senilai C$7 juta atau sekitar US$4,93 juta untuk mendukung pengembangan proyek tambang molibdenum di Greenland. Investasi ini menjadi bagian dari upaya negara-negara Barat memperkuat rantai pasok mineral kritis yang dibutuhkan industri pertahanan, energi, hingga kedirgantaraan.

Perusahaan Greenland Resources Inc. pada Senin (29/6) mengumumkan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk mengembangkan tambang terbuka Malmbjerg di Greenland bagian timur.

Tambang Malmbjerg memiliki cadangan molibdenum, logam yang telah ditetapkan sebagai mineral kritis oleh European Union maupun Amerika Serikat karena perannya yang sangat penting dalam berbagai sektor strategis.


Dalam keterangannya, Greenland Resources menyebut hibah tersebut merupakan kontribusi yang tidak perlu dikembalikan (non-repayable contribution) dan diberikan melalui program Critical Minerals Research, Development and Demonstration milik Natural Resources Canada.

Baca Juga: Serangan Siber Iran Terhadap Israel Melonjak Tiga Kali Lipat Sejak Konflik Memanas

Perusahaan juga menyatakan bahwa Kanada menjadi negara anggota G7 pertama yang melakukan investasi langsung pada sektor pertambangan di Greenland.

Molibdenum merupakan logam berwarna putih keperakan yang terutama digunakan untuk meningkatkan kekuatan baja serta membuatnya lebih tahan terhadap panas dan korosi. Karakteristik tersebut menjadikannya material penting dalam berbagai aplikasi industri, termasuk sektor pertahanan, energi bersih, infrastruktur, hingga industri kedirgantaraan.

Langkah Kanada dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Barat terhadap keamanan pasokan mineral strategis. Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah China, yang menyumbang sekitar 40% produksi molibdenum dunia, memberlakukan pembatasan ekspor logam tersebut pada awal 2025.

Kebijakan Beijing memicu dorongan dari Amerika Utara dan Eropa untuk mencari sumber pasokan alternatif di luar China, termasuk melalui pengembangan proyek-proyek pertambangan di kawasan Arktik.

Baca Juga: Warga Filipina Berbondong-bondong Pasang PLTS Atap di Tengah Lonjakan Tarif Listrik

Minat Barat terhadap Greenland juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendorong gagasan agar Washington mengambil alih Greenland. Usulan tersebut mendapat penolakan tegas dari pemerintah Denmark maupun pemerintah **Greenland>.

Meski demikian, isu tersebut turut menyoroti besarnya potensi sumber daya mineral yang dimiliki pulau terbesar di dunia tersebut, termasuk cadangan logam tanah jarang, grafit, nikel, tembaga, hingga molibdenum.

Di sisi lain, industri pertambangan Greenland hingga kini berkembang relatif lambat. Meskipun kaya akan sumber daya alam, pengembangan proyek tambang di wilayah tersebut masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari proses perizinan yang kompleks hingga keterbatasan pendanaan untuk proyek-proyek berskala besar.