Kantor Pusat Aramco Dievakuasi, Harga Minyak Brent Tembus US$ 112



KONTAN.CO.ID - Saudi Aramco memerintahkan karyawan untuk meninggalkan kantor pusatnya di Dhahran, Arab Saudi, dan bekerja dari jarak jauh.

Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya bentrokan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.

Mengutip Reuters, Kamis (22/10/2026), enam sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa instruksi evakuasi telah disampaikan kepada karyawan Aramco.


Namun, belum diketahui alasan spesifik di balik perintah tersebut. Aramco juga belum segera menanggapi permintaan komentar.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Dekati Level Terendah dalam 57 Tahun

Instruksi itu muncul setelah serangkaian serangan Houthi yang menyasar Arab Saudi, termasuk fasilitas Aramco dan sejumlah bandara.

Serangan tersebut menambah ketegangan di kawasan Timur Tengah, yang menjadi salah satu pusat utama produksi dan ekspor minyak dunia.

Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya telah menyerang fasilitas Aramco di Yanbu, kota di pesisir Laut Merah, serta Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh. Namun, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi serangan terhadap fasilitas tersebut.

Koalisi pimpinan Arab Saudi pada Kamis menyatakan telah mencegat sejumlah drone di atas Riyadh dan Madinah.

Sementara itu, serangan Houthi terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu malam menewaskan dua orang, masing-masing warga Arab Saudi dan warga negara India, serta melukai delapan orang lainnya.

Baca Juga: Utang Zona Euro Membengkak, Prancis dan Italia Tertekan

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi menyatakan, operasional bandara tersebut telah kembali berjalan normal pada Kamis.

Konflik yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir juga mengakhiri gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022.

Situasi ini membuka front baru dalam konflik yang lebih luas di Timur Tengah, termasuk perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Sebelumnya, serangan Houthi pada awal bulan ini dilaporkan menyebabkan kerusakan luas pada kantor pusat Aramco, dengan api menyebar ke beberapa lantai bangunan.

Arab Saudi kemudian merespons serangan tersebut dengan melancarkan serangan ke sejumlah lokasi peluncur rudal dan menyatakan akan melindungi wilayahnya.

Baca Juga: IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin

Harga minyak melonjak

Meningkatnya risiko konflik di kawasan tersebut turut mendorong harga minyak dunia. Pada Kamis, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 3,06 atau 2,81% menjadi US$ 111,88 per barel pada pukul 11.04 GMT. Harga Brent sempat menyentuh US$ 112,55 per barel, level tertinggi sejak 18 Mei.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik dan dampaknya terhadap pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Di pasar saham, indeks acuan Arab Saudi, TASI, turun 2,5% pada perdagangan Kamis setelah kabar mengenai perintah evakuasi di kantor pusat Aramco mencuat, berdasarkan data LSEG.

Serangan terhadap fasilitas energi dan infrastruktur transportasi meningkatkan risiko gangguan distribusi minyak. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur ekspor atau fasilitas produksi, pasokan minyak global berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Baca Juga: Prada Catat Pertumbuhan Pendapatan 1% pada Kuartal III 2026