Kapal Feri Taiwan–Jepang Diluncurkan di Tengah Ketegangan Geopolitik China



KONTAN.CO.ID - KEELUNG. Layanan feri baru yang menghubungkan Taiwan dan Jepang resmi dibuka pada Kamis (28/5/2026), menggunakan kapal yang juga disiapkan Jepang untuk skenario evakuasi warga jika terjadi konflik di kawasan.

Rute ini menghubungkan pelabuhan Keelung di Taiwan dengan Ishigaki di Jepang, pulau di ujung selatan Kepulauan Ryukyu, dan akan beroperasi sekali dalam sepekan untuk perjalanan wisata malam.

Kapal Yaima Maru yang digunakan dalam layanan ini termasuk dalam daftar kapal yang ditetapkan pemerintah Jepang tahun ini sebagai armada evakuasi warga dari pulau-pulau selatan menuju daratan utama Jepang bila terjadi keadaan darurat.


Baca Juga: Taiwan Tegang, Roket China Jatuh di Zona Lautnya

Di tengah peluncuran rute baru ini, kawasan tersebut tetap berada dalam bayang-bayang ketegangan geopolitik.

China yang mengklaim Taiwan sebagai wilayahnya, dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan tekanan militer, termasuk latihan perang yang menjangkau wilayah dekat perairan Jepang.

Meski begitu, otoritas lokal menekankan aspek konektivitas dan kerja sama.

"Rute reguler ini bukan sekadar infrastruktur transportasi. Ini menjadi jembatan baru untuk mendukung pariwisata, logistik, aktivitas ekonomi, pertukaran budaya, dan pendidikan," kata Wali Kota Ishigaki Yoshitaka Nakayama saat peluncuran di pelabuhan Keelung.

Operator feri menegaskan fokus utama saat ini adalah operasional layanan, bukan isu geopolitik.

"Pada dasarnya ini adalah urusan antarnegara. Sebagai operator swasta, langkah pertama kami adalah memastikan layanan ini berjalan," ujar Presiden Shosen Yaima, Tatsuya Ohama.

Baca Juga: Menang Telak, Ini Arti Kemenangan PM Jepang Terkait Hubungan Panas dengan China

Rute ini juga menyoroti posisi strategis kawasan Ryukyu, di mana Amerika Serikat memiliki pangkalan militer besar di Okinawa, sementara Jepang memperkuat pertahanan di pulau-pulau selatannya, termasuk Yonaguni—salah satu wilayah terdekat dengan Taiwan.

Hubungan Taiwan dan Jepang sendiri tetap erat secara ekonomi dan perdagangan meski tidak memiliki hubungan diplomatik resmi. Sementara itu, Beijing menolak klaim kedaulatan Taiwan oleh pemerintah di Taipei, yang tetap bersikap menolak klaim tersebut.

Peluncuran layanan feri ini pun terjadi di tengah meningkatnya sensitivitas keamanan di kawasan Asia Timur, menjadikannya bukan sekadar jalur wisata, tetapi juga simbol rapuhnya stabilitas regional.