Kapal LNG India Mulai Melintas Selat Hormuz Pasca Kesepakatan Damai AS-Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perusahaan energi India, Petronet LNG, mengirimkan sebuah kapal tanker gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz pada Senin (15/6/2026), menjadikannya satu-satunya pengiriman yang tercatat setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Berdasarkan data pelacakan kapal, langkah Petronet menjadi indikator awal dimulainya kembali aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sempat lumpuh akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Meski demikian, volume lalu lintas kapal masih sangat terbatas. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati para perusahaan pelayaran yang masih menunggu kejelasan lebih lanjut, termasuk terkait proses pembersihan ranjau di perairan tersebut, sebelum mengizinkan armadanya kembali melintas.


Seiring meredanya ketegangan geopolitik, harga minyak dunia pada Senin turun sekitar 4%. Penurunan tersebut dipicu ekspektasi bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang yang memuat langkah-langkah pemulihan pelayaran melalui Selat Hormuz.

Baca Juga: Bursa Saham Eropa Cetak Rekor Tertinggi Setelah AS-Iran Capai Kesepakatan Perdamaian

Konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran yang dimulai pada 28 Februari telah menghentikan sebagian besar aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute transit bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia, sekaligus menjadi jalur penting pengiriman komoditas seperti aluminium dan urea.

Data dari Kpler dan LSEG menunjukkan kapal tanker LNG Disha mengangkut muatannya dari fasilitas Ras Laffan di Qatar pada 1–2 Maret dan sejak saat itu berada di sisi barat Selat Hormuz. Meskipun data pelacakan tidak mengungkap tujuan akhir kapal tersebut, sumber yang mengetahui transaksi mengatakan kargo LNG itu akan dikirim ke terminal Dahej di India.

Hingga berita ini ditulis, Petronet belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait pengiriman tersebut.

Jumlah Kapal di Kawasan Teluk Masih Menurun

Menurut data Kpler, terdapat sekitar 155 kapal tanker pengangkut minyak dan bahan kimia di kawasan Teluk Timur Tengah per 15 Juni, turun dibandingkan 201 kapal pada akhir Mei.

Sementara itu, perusahaan riset Oil Brokerage memperkirakan jumlah kapal di kawasan mencapai 215 unit.

Kepala Riset Pelayaran Global Oil Brokerage, Anoop Singh, menilai pemulihan kepercayaan industri pelayaran tidak akan terjadi secara instan.

"Kami memperkirakan pelayaran bebas harus terus berlangsung selama beberapa pekan agar komunitas pelayaran global memperoleh kembali kepercayaan. Sampai saat itu, tarif angkutan fisik kemungkinan masih tetap tinggi dan aktivitas perdagangan masih akan berjalan lambat," katanya.

Singh menambahkan bahwa jika navigasi kembali dibuka tanpa pembatasan, penumpukan kapal di kedua sisi Selat Hormuz dapat diselesaikan dalam waktu sekitar delapan hingga sepuluh hari.

"Selain itu, para pemilik kapal telah menempatkan hampir 60 kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) lebih banyak dari biasanya hanya dalam beberapa hari pelayaran menuju pelabuhan di sebelah barat Hormuz sebagai bentuk antisipasi," tambahnya.

Perusahaan Pelayaran Jepang Masih Menunggu Kepastian

Asosiasi Pemilik Kapal Jepang menyambut baik tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Namun organisasi tersebut menegaskan masih ingin menunggu informasi yang lebih konkret setelah perjanjian resmi ditandatangani pada 19 Juni.

Baca Juga: Elon Musk Optimistis SpaceX Raup Pendapatan US$ 1 Triliun pada 2030

Juru bicara asosiasi menyebut masih terdapat laporan mengenai kemungkinan adanya ranjau di kawasan tersebut.

"Mengingat situasi yang ada, kami tidak bisa begitu saja mengatakan, 'Baiklah, mari berlayar,' hanya berdasarkan kabar mengenai kesepakatan itu saja," katanya.

Perusahaan pelayaran terbesar Jepang, Nippon Yusen, juga berharap operasi pelayaran dapat kembali normal secepat mungkin. Namun, pihak perusahaan menyatakan masih terlalu dini untuk memberikan kepastian mengenai jadwal kapal-kapal yang masih tertahan di kawasan Teluk.

Perusahaan tersebut juga tidak mengungkap jumlah armada yang masih berada di wilayah tersebut.

Sementara itu, Mitsui O.S.K. Lines menegaskan kebijakannya belum berubah meskipun terdapat perkembangan menuju gencatan senjata.

"Meskipun kami mengetahui adanya tanda-tanda kemajuan menuju gencatan senjata, kebijakan kami tetap tidak berubah; kami hanya akan kembali melanjutkan pelayaran setelah keselamatan benar-benar dipastikan," ungkapnya.