Kapal Tanker Ditinggalkan Awak usai Diduga Terkena Proyektil di Selat Hormuz



KONTAN.CO.ID - Sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui jenis maupun asalnya, sehingga awak kapal terpaksa meninggalkan kapal dan menyelamatkan diri menggunakan sekoci.

Mengutip Reuters, Selasa (21/7/2026), insiden tersebut disampaikan oleh United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) yang menyebut telah menerima beberapa laporan melalui saluran radio maritim VHF Channel 16.

Baca Juga: Jepang Memprotes Latihan Tembak Langsung China di Perairan Terdekat


Menurut UKMTO, kapal tanker tersebut melaporkan telah dihantam proyektil tak dikenal. Insiden terjadi sekitar delapan mil laut di sebelah timur Limah, Oman, dan kini masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

UKMTO juga menyatakan petugas keamanan perusahaan pemilik kapal melaporkan seluruh awak telah meninggalkan kapal dan berada di atas sekoci.

Hingga saat ini, tidak ada laporan mengenai dampak pencemaran lingkungan akibat insiden tersebut.

UKMTO tidak mengungkap identitas kapal maupun perusahaan pemiliknya.

Dalam perkembangan terpisah, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan, dua kapal tanker minyak terbakar setelah terjadi ledakan saat berupaya melintasi jalur selatan Selat Hormuz.

IRGC menyebut tim penyelamat sedang mengevakuasi awak kedua kapal tersebut, namun tidak mengungkap identitas kapal yang dimaksud.

Baca Juga: AS Rampungkan Gelombang Terbaru Serangan ke Iran, Sudah 10 Malam Berturut-turut

Reuters menyatakan belum dapat memverifikasi secara independen klaim tersebut.

Belum dapat dipastikan pula apakah kapal tanker yang dilaporkan UKMTO merupakan salah satu dari dua kapal yang disebut oleh IRGC.

Selat Hormuz, yang berada di antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20% pasokan energi global dikirim melalui selat tersebut.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran runtuh pada awal Juli.

Kondisi itu memicu kembali aksi saling serang dan mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Amerika Serikat kembali memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak 14 Juli.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat Selasa (21/7), Harapan Mediasi Timur Tengah Tekan Harga Minyak

Washington juga mengaku menembaki sebuah kapal tanker kosong di Selat Hormuz yang disebut sedang menuju Iran.

Sebagai balasan, Iran menyatakan telah melancarkan operasi terhadap pangkalan militer AS sebagai respons atas apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap wilayah maritimnya.

Dalam pernyataannya pada Selasa, Garda Revolusi Iran kembali menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup selama operasi militer Amerika Serikat di kawasan masih berlangsung.

"Hingga aksi Amerika di kawasan berakhir, Selat Hormuz akan tetap ditutup, dan tidak setetes pun minyak, gas, maupun pengiriman pupuk kimia akan diekspor dari kawasan tersebut," demikian pernyataan Garda Revolusi Iran.