Kapal Tanker Minyak Kuwait Terbakar di Dubai Usai Serangan Iran, Tidak Ada Korban



KONTAN.CO.ID - Sebuah kapal tanker minyak mentah milik Kuwait dilaporkan terbakar di area jangkar Pelabuhan Dubai pada Senin (30/3/2026), setelah diduga menjadi sasaran serangan Iran.

Kantor berita negara Kuwait melaporkan, mengutip Kuwait Petroleum Corporation, bahwa kapal tanker bermuatan penuh tersebut mengalami kebakaran hebat serta kerusakan pada lambung kapal. Perusahaan juga memperingatkan adanya potensi tumpahan minyak akibat insiden ini.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Tajam di Maret, Yen Pulih Tipis di Tengah Ancaman Intervensi


Serangan ini menjadi bagian dari rangkaian eskalasi di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, menyusul konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Otoritas Dubai mengonfirmasi bahwa mereka tengah menangani serangan drone terhadap kapal tanker berbendera Kuwait di perairan Dubai. Tim pemadam kebakaran maritim dikerahkan untuk mengendalikan api.

Meski insiden tergolong serius, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Seluruh 24 awak kapal dilaporkan dalam kondisi aman.

Proses penilaian kerusakan kapal masih berlangsung. Berdasarkan data Lloyd’s List Intelligence, Kuwait Petroleum Corporation merupakan perusahaan induk dari pemilik dan operator komersial kapal tersebut.

Baca Juga: Trump Bakal Meminta Negara-Negara Arab Membiayai Perang Iran

Sejauh ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran terkait dugaan serangan tersebut.

Sementara itu, insiden lain juga terjadi di wilayah Teluk. Sebuah kapal kontainer milik Yunani yang berlayar di dekat Ras Tanura, Arab Saudi, melaporkan dua proyektil jatuh ke laut di dekat kapal dalam dua kejadian terpisah.

Kelompok manajemen risiko maritim Inggris Vanguard menyebutkan, kapal berbendera Liberia Express Rome berada sekitar 22 mil laut dari Ras Tanura saat insiden terjadi. Tidak ada korban dalam peristiwa tersebut dan awak kapal dilaporkan selamat.

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran mengklaim telah menyerang kapal yang sama pada 11 Maret lalu.

Hingga kini, belum ada pihak yang secara resmi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap kapal tanker maupun insiden proyektil tersebut.

Baca Juga: China Bentuk Organisasi Data Global untuk Dorong Standar Industri

Kabar serangan ini langsung mendorong kenaikan harga minyak. Kontrak minyak mentah AS melonjak lebih dari 2,9% atau sekitar US$3 ke level US$105,91 per barel.

Eskalasi serangan terhadap kapal niaga di kawasan Teluk semakin memperburuk kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.