KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri data center di Indonesia diyakini masih memiliki prospek pertumbuhan yang kuat seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital dan kecerdasan artifisial (AI). Asosiasi Penyelenggara Data Center Indonesia (IDPRO) memperkirakan kapasitas nasional akan terus bertambah hingga mendekati 600 megawatt (MW) pada akhir 2026. Ketua Umum IDPRO Hendra Suryakusuma mengungkapkan, hingga Juni 2026 kapasitas fasilitas data center di Indonesia telah mencapai sekitar 520 MW. Anggota IDPRO sendiri disebut mewakili lebih dari 80% kapasitas data center nasional.
Hendra memproyeksikan kapasitas nasional secara indikatif berpotensi mendekati 600 MW pada penghujung tahun. Proyeksi tersebut didorong oleh sejumlah proyek yang kini memasuki tahap konstruksi, energization, dan commissioning. "Meskipun begitu, realisasinya tetap bergantung pada kesiapan pasokan listrik, penyelesaian konstruksi, serta penyerapan kapasitas oleh pelanggan," kata Hendra kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Cyber Mecha Design OMODA 04 Padukan Keberlanjutan, Teknologi, dan Ekspresi Pribadi Menurut Hendra, prospek industri data center hingga akhir 2026 akan ditopang oleh percepatan adopsi layanan cloud dan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Selain itu, digitalisasi layanan pemerintah, sektor perbankan, e-commerce, telekomunikasi, hingga meningkatnya kebutuhan perusahaan dalam memperkuat keamanan serta ketahanan sistem informasi turut menjadi faktor pendorong pertumbuhan industri. Dalam menilai perkembangan industri, Hendra menekankan pentingnya membedakan antara kapasitas yang telah beroperasi, kapasitas yang masih dalam tahap pembangunan, dan kapasitas yang baru diumumkan atau direncanakan. "IDPRO cenderung menggunakan kapasitas yang sudah siap digunakan sebagai indikator yang lebih realistis," imbuhnya. Untuk jangka menengah, Hendra menyebut terdapat proyeksi kapasitas data center Indonesia dapat mencapai sekitar 1,41 gigawatt (GW) pada 2029. Menurutnya, proyeksi tersebut menunjukkan ruang pertumbuhan industri data center nasional masih sangat besar. "Saya pribadi melihat bisa jauh lebih cepat tercapainya, melihat pertumbuhan di industri data center terutama di dua tahun terakhir ini," lanjut Hendra. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa realisasi pertumbuhan kapasitas tetap membutuhkan dukungan kebijakan yang kondusif, ketersediaan energi, konektivitas, serta investasi yang berkelanjutan.
Baca Juga: Ciputra Group Bangun Beach Club Premium di Ciputra Beach Resort Bali Di sisi lain, Hendra menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi industri data center. Tantangan tersebut antara lain meliputi ketersediaan pasokan listrik dalam skala besar, kepastian waktu penyambungan listrik, akses terhadap energi terbarukan, proses perizinan yang melibatkan banyak institusi, hingga keterbatasan tenaga ahli.
"Tantangan lain mencakup lead time peralatan kelistrikan dan pendinginan, ketersediaan lahan dan air, konektivitas antarkawasan, serta kebutuhan menjaga dampak lingkungan," kata Hendra. Ia menambahkan, pengembangan green data center di Indonesia juga masih menghadapi tantangan. Akses langsung terhadap energi terbarukan serta mekanisme investasi yang lebih sederhana dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. "Saya yakin kita bisa segera dapatkan solusinya dengan support dari regulator," imbuh Hendra. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News