Kapasitas Terpasang Biofuel Baru 22 Juta KL, Aprobi: Butuh Penambahan Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menilai perlunya penambahan investasi baru guna mendukung peningkatan persentase pencampuran biofuel nasional. 

Hal ini mengingat kapasitas terpasang industri biofuel saat ini masih terbatas di kisaran 22 juta kiloliter (KL) untuk menopang target mandatori biodiesel maupun bioetanol.

Sekretaris Jenderal Aprobi, Ernest Gunawan mengungkapkan bahwa kapasitas produksi riil industri saat ini berada di tingkat 80% hingga 85% dari total kapasitas terpasang. Menurutnya, tantangan peningkatan persentase blending ke depan akan semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku serta kesiapan sarana logistik penunjang.


Baca Juga: RMIT dan Mandaya Hospital Group Dorong Teknologi Kesehatan Lebih Dekat ke Pasien

"Selanjutnya kapasitas terpasang, diperlukan investasi tambahan pastinya, rencana kita untuk menambah persentase blending, mengingat sekarang hanya sekitar 22 juta kiloliter, itu adalah kapasitas terpasang, sedangkan kapasitas produksi sekitar 80-85%," ujarnya di acara IndoEBTKE ConEx 2026 di JIExpo Kemayoran Jakarta, Kamis (3/9/2026).

Ernest menjelaskan, implementasi program B40 dan B50 pada tahun 2026 diproyeksikan membutuhkan alokasi konsumsi biodiesel mencapai sekitar 16,7 juta KL. Program ini memberikan dampak ekonomi signifikan, mulai dari penyerapan 2,1 juta tenaga kerja hingga potensi penghematan devisa dari impor solar sebesar Rp 170 triliun.

"Untuk B50 saat ini telah lolos uji di berbagai sektor, di antaranya sektor otomotif yang pertama, alat pertanian, alat berat pertambangan, angkutan laut, kereta api, pembangkit listrik," kata Ernest.

Dari sisi teknis, produsen terus melakukan pembenahan sarana dan spesifikasi produk agar sesuai dengan standar yang ditetapkan di setiap tahapan program. Namun, ketersediaan bahan baku (feedstock) dan fasilitas distribusi masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan.

Baca Juga: MR.DIY Kejar Target Buka 270 Toko Tahun Ini

"Berkenaan dengan keberhasilan program mandatory biodiesel, yang menjadi kunci adalah koordinasi dan sinergi yang baik dari berbagai pemangku kepentingan, baik itu pemerintah sebagai regulator, dan industri, baik itu industri bahan bakar maupun sektor industri pengguna, lembaga riset, dan juga BPDP yang men-support sehingga program biofuel dapat berjalan," tuturnya.

Selain fokus pada pengembangan biodiesel, Ernest menegaskan pentingnya mendorong capaian program mandatori bioetanol yang saat ini implementasinya masih tergolong rendah di tingkat E5. 

"Saat ini di E5, artinya bioetanol 5%, apabila program bioetanol dapat ditingkatkan dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri, maka manfaat lainnya seperti pengurangan devisa dari impor minyak dapat ditekan lagi serta capaian energi bersih atau target net zero emission dapat segera dicapai," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News