KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut Rp 1.857 triliun menjadi Rp 8.844 triliun pada Senin (19/10/2026), dari Rp 10.701 triliun pada September 2026. Penurunan sekitar 17,35% ini terjadi di tengah tekanan pasar saham setelah pengumuman penyedia indeks global MSCI pada 16 Oktober 2026. Penyusutan kapitalisasi pasar juga terjadi pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar. Berdasarkan data per Senin (19/10/2026), AMMN dan TLKM mencatatkan penurunan kapitalisasi pasar terdalam dibandingkan posisi September, masing-masing sebesar 22,94% dan 22,84%. Kapitalisasi pasar AMMN turun dari Rp 327 triliun menjadi Rp 252 triliun, sedangkan TLKM menyusut dari Rp 226,8 triliun menjadi Rp 175 triliun. Nilai kapitalisasi pasar kedua emiten tersebut berkurang masing-masing Rp 75 triliun dan Rp 51,8 triliun.
Baca Juga: Menakar Resiliensi Pasar Saham di Tengah Derasnya Net Sell Asing Sementara itu, kapitalisasi pasar BBCA turun 20,65% dari Rp 741 triliun menjadi Rp 588 triliun. Kapitalisasi pasar BBRI menyusut 19,11% dari Rp 471 triliun menjadi Rp 381 triliun, sedangkan BMRI turun 16,22% dari Rp 370 triliun menjadi Rp 310 triliun. Penurunan juga dialami BYAN, dengan kapitalisasi pasar terkoreksi 12% dari Rp 393 triliun menjadi Rp 345,83 triliun. Adapun DCII mencatatkan penurunan relatif lebih terbatas, yakni 5,72% dari Rp 472 triliun menjadi Rp 445 triliun. Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, tekanan pasar saat ini tidak semata-mata berkaitan dengan valuasi saham, tetapi juga kepercayaan investor terhadap transparansi kepemilikan saham, keterukuran free float, dan tata kelola pasar modal Indonesia. “Menurut saya, persoalan utama saat ini bukan sekadar koreksi IHSG, melainkan krisis kepercayaan investor terhadap transparansi kepemilikan saham, keterukuran free float, dan tata kelola pasar modal,” ujar Hendra kepada Kontan, Senin (19/10/2026). Ia menilai, usulan MSCI untuk mengubah klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang atau
emerging market menjadi pasar mandiri atau
standalone market memperbesar kekhawatiran terhadap daya tarik pasar saham domestik di mata investor global. Menurut Hendra, peluang kapitalisasi pasar kembali ke level sebelum koreksi tetap terbuka, tetapi pemulihan membutuhkan bukti nyata perbaikan transparansi, kualitas free float, pengawasan transaksi, dan penegakan aturan secara konsisten. Selama tekanan jual asing masih tinggi dan belum muncul katalis positif yang kuat, kenaikan harga saham berisiko hanya menjadi rebound sementara. “Dalam kondisi seperti ini, menjaga modal dan likuiditas lebih penting daripada terburu-buru mengejar harga bawah,” kata Hendra. Karena itu, Hendra cenderung menyarankan strategi
sell on strength, yaitu memanfaatkan kenaikan harga untuk mengurangi posisi secara bertahap, terutama pada saham yang belum menunjukkan pembalikan tren. Adapun strategi
buy on weakness dapat dilakukan secara selektif pada saham berfundamental kuat setelah tekanan jual mereda dan muncul konfirmasi teknikal. Untuk rekomendasi saham, Hendra memilih BBRI dengan strategi
buy on weakness di area Rp 2.300 dan target harga Rp 2.700 per saham. BMRI juga dapat dicermati di area Rp 3.200 dengan target Rp 3.600 per saham. Sementara itu, untuk BBCA, ia menyarankan strategi
sell on strength dengan target Rp 4.500 per saham sebagai acuan pelepasan posisi ketika harga menguat. Hendra menegaskan, level harga tersebut merupakan area pantauan dan acuan strategi, bukan jaminan bahwa harga tidak akan turun lebih dalam. Investor tetap perlu memperhatikan perkembangan pasar dan menghindari aksi average down tanpa perhitungan risiko yang jelas. Sementara itu, Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai, pengumuman MSCI memberikan tekanan signifikan terhadap pasar saham Indonesia karena persoalan yang disoroti tidak hanya berkaitan dengan valuasi, tetapi juga transparansi kepemilikan, tata kelola, dan kepercayaan investor global. Thoriq mencatat, kapitalisasi pasar BEI menyusut Rp 1.544 triliun atau 14,43% menjadi Rp 9.157 triliun sepanjang 12-16 Oktober 2026. Tekanan berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026), ketika kapitalisasi pasar turun menjadi Rp 8.844 triliun. “Dengan demikian, saya menilai penurunan harga saham yang sudah cukup dalam belum dapat langsung diartikan sebagai terbentuknya titik terendah pasar,” ujar Thoriq. Menurut Thoriq, peluang pemulihan kapitalisasi pasar hingga akhir 2026 tetap terbuka. Namun, untuk kembali sepenuhnya ke level sebelum koreksi, yakni Rp 10.701 triliun, pasar membutuhkan perbaikan sentimen yang lebih berkelanjutan. Pemulihan juga akan dipengaruhi stabilitas rupiah, arah suku bunga, arus modal asing, serta perkembangan reformasi pasar modal. Dari sisi pilihan saham, Thoriq mengutamakan BMRI, BBCA, dan TLKM untuk masuk daftar pemantauan. BMRI dan BBCA dipilih karena fundamental perbankan yang relatif kuat, sedangkan TLKM dinilai menarik untuk diversifikasi karena karakter bisnisnya relatif defensif. BBRI juga dapat dicermati sebagai peluang pemulihan, tetapi dengan risiko relatif lebih tinggi. Meski demikian, Thoriq belum menyarankan investor melakukan akumulasi secara agresif. Ia menyarankan investor menunggu stabilisasi pergerakan harga, meredanya arus keluar modal asing, serta perkembangan konkret reformasi pasar modal. “Menurut saya, peluang investasi memang mulai terbuka, tetapi risiko penurunan lanjutan tetap perlu menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan investasi,” kata Thoriq.
Untuk strategi investasi jangka menengah hingga panjang sekitar enam sampai 12 bulan, Thoriq menempatkan BMRI dan BBCA sebagai pilihan utama di sektor perbankan. Sementara itu, TLKM dapat dipertimbangkan untuk diversifikasi portofolio dan BBRI sebagai peluang pemulihan dengan pendekatan yang lebih selektif. Thoriq menyarankan investor menerapkan strategi
wait and see dengan pendekatan
selective buy on weakness. Menurut dia, investor sebaiknya menunggu tekanan jual berkurang, harga saham lebih stabil, dan arus dana asing menunjukkan perbaikan sebelum mulai menambah posisi.
Baca Juga: IHSG Turun ke Level 4.996, Simak Prediksi dan Rekomendasi Saham Selasa (20/10) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News