Karhutla Indonesia Rugikan Malaysia Rp35,8 Triliun, Picu 1.700 Kematian Dini



KONTAN.CO.ID - Kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia diperkirakan menyebabkan kerugian kesejahteraan sebesar RM8 miliar atau sekitar Rp35,82 triliun di Malaysia.

Dampaknya meliputi gangguan aktivitas industri, penutupan sekolah, hingga risiko kematian dini akibat paparan polusi udara.

Laporan berjudul The 2026 Fire Season and Transboundary Haze in Malaysia yang dipesan oleh Federation of Malaysian Manufacturers (FMM) mencatat dampak kabut asap selama periode 1 Juli hingga 22 Oktober 2026.


Penelitian tersebut menggunakan data satelit, pemantauan kualitas udara, pemodelan atmosfer, serta survei terhadap fasilitas industri.

Menurut laporan yang dikutip South China Morning Post, paparan partikel halus dari kebakaran diperkirakan berkontribusi terhadap sekitar 1.700 kematian dini di Malaysia.

Angka tersebut merupakan estimasi berdasarkan model statistik, bukan jumlah kematian yang telah dikonfirmasi secara individual.

Baca Juga: Inilah Pidato Anggota DPR Malaysia Bahasa Jawa Minta Prabowo Serius Tangani Karhutla

Karhutla Indonesia Picu 1.700 Kematian Dini

Laporan FMM memperkirakan paparan partikel halus dari kebakaran hutan dan lahan berkontribusi terhadap 1.700 kematian dini selama periode penelitian.

Sekitar 1.600 dari estimasi tersebut dikaitkan dengan asap yang berasal dari luar wilayah Malaysia.

Namun, jika asap kebakaran diasumsikan memiliki tingkat toksisitas lebih rendah dibandingkan partikel halus pada umumnya, estimasi kematian dini turun menjadi sekitar 600 orang.

Laporan itu juga menghitung beban kesejahteraan akibat risiko kematian dini sebesar RM3 miliar hingga RM15 miliar, setara sekitar Rp13,43 triliun hingga Rp67,16 triliun.

Baca Juga: Singapura Ancam Bekukan Akses Pendanaan Perusahaan yang Terkait Karhutla Indonesia

Aktivitas Industri dan Sekolah Malaysia Terganggu

Dalam survei yang melibatkan 86 fasilitas anggota FMM, termasuk 81 pabrik industri, sebanyak 59 fasilitas melaporkan mengalami gangguan operasional.

Dari fasilitas yang terdampak, 26% menyebut gangguan yang dialami berada pada tingkat sedang hingga signifikan.

Sebanyak 81% melaporkan peningkatan cuti sakit atau ketidakhadiran karyawan akibat masalah kesehatan, sedangkan 63% menyatakan penutupan sekolah mengurangi ketersediaan tenaga kerja.

Kekurangan pekerja turut mengganggu kegiatan produksi. Sebanyak 14% fasilitas terdampak melaporkan perubahan jadwal kerja, keterlambatan produksi, atau hambatan pengiriman barang akibat terbatasnya tenaga kerja.

Baca Juga: Kualitas Udara Malaysia-Singapura Tembus Level Bahaya Akibat Asap Karhutla Indonesia

Sementara itu, 37% perusahaan yang mengalami dampak operasional mencatat penurunan output. Sebanyak 27% bahkan terpaksa menghentikan sementara setidaknya satu lini produksi.

Kabut asap juga mengganggu kegiatan pendidikan di Malaysia. Penutupan sekolah akibat kualitas udara yang memburuk diperkirakan menyebabkan hilangnya 8,4 juta hingga 13,4 juta student-days.

Student-days adalah akumulasi hari kehadiran sekolah yang terlewat oleh seluruh siswa yang terdampak.

Pemerintah Malaysia juga berencana memperkenalkan sejumlah langkah untuk menangani kabut asap lintas batas.

Terlebih lagi, Malaysia sudah memegang kepemimpinan bergilir Komite Pengarah Menteri Subregional ASEAN tentang Polusi Asap Lintas Batas pada 2027.

FMM mendorong negara-negara kawasan memperkuat kerja sama dalam pemantauan titik panas, sistem peringatan dini, pencegahan kebakaran, serta pengelolaan lahan berkelanjutan.

Federasi tersebut menilai kabut asap perlu diperlakukan sebagai persoalan kesehatan masyarakat dan ketahanan ekonomi, bukan semata-mata masalah lingkungan.

Baca Juga: Singapura Keluarkan Stok Masker N95 untuk Hadapi Kabut Asap Karhutla