Karhutla Masih Ancam Sejumlah Wilayah, BMKG Tengah Uji Teknologi Dry Ice



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan tengah menguji teknologi dry ice untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengancam sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.

Upaya ini dilakukan di tengah penantian hujan alami yang diperkirakan baru tiba pada awal November 2026 di sejumlah daerah terdampak.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan kondisi karhutla di Riau dan Jambi relatif terkendali. Sementara itu, kebakaran di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah masih parah. Adapun Kalimantan Barat secara umum mulai mengalami hujan, kecuali di wilayah bagian selatan.


Baca Juga: Prabowo Resmi Lantik Richard Tampubolon Jadi Wamenhan

“Riau dan Jambi ini sudah relatif bisa dikendalikan, tapi Sumatera Selatan karena dia berada lebih ke selatan, musim hujan masih kira-kira nanti di awal November, jadi ini masih perlu perjuangan selama dua minggu ke depan,” ujar Faisal usai koordinasi swasembada air di kantor Kemenko IPK, Kamis (15/10/2026).

Untuk mempercepat penanganan karhutla, BMKG tengah menguji teknologi dry ice melalui kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Thailand. 

Teknologi ini digunakan untuk membantu membuka lapisan inversi yang memerangkap asap pekat hingga ketinggian sekitar 7.000 kaki.

Faisal menjelaskan, lapisan inversi tersebut menghambat pergerakan asap dan membatasi masuknya sinar matahari ke permukaan. Dengan membuka lapisan itu, asap diharapkan bergerak naik sehingga sinar matahari dapat masuk dan meningkatkan penguapan yang mendukung pembentukan awan hujan.

“Jadi kita buka dulu lapisan inversinya dengan dry ice, jadi nanti asapnya akan naik ke atas, akan terbongkar istilahnya, kemudian baru matahari bisa masuk untuk melakukan penguapan terbentuknya awan hujan,” jelasnya. 

Setelah proses tersebut, BMKG akan kembali melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di wilayah yang sulit dipadamkan, terutama kawasan gambut dan tanah mineral. 

Upaya ini diharapkan membantu pemadaman karhutla sebelum hujan alami tiba.

Faisal mengatakan, operasi penanganan karhutla telah mulai berjalan di Sumatera Selatan dengan pos komando di Lampung. Sementara itu, penanganan di Kalimantan Tengah didukung pos komando dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Menurut Faisal, hujan alami di Kalimantan Tengah juga diperkirakan baru tiba pada awal November. Karena itu, pemerintah berupaya mendatangkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca untuk membantu menangani kebakaran yang masih berlangsung.

“Jadi dry ice ini kita coba untuk segera dengan berbagai cara, kebakaran hutan ini dapat kita tangani dengan mendatangkan hujan, tapi kalau hujan alaminya sendiri kurang lebih di awal November nanti,” ujar Faisal.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Pemerintah Naik Jadi US$ 220,9 Miliar, Ini Pemicunya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News