KARK genjot ekspor nikel ke China



JAKARTA. Strategi PT Dayaindo Resources International Tbk (KARK) yang menggunakan dana penerbitan saham baru (rights issue) untuk membeli PT Anugerah Tompira Nikel (ATN) cukup jitu. Sebab, produsen nikel yang dicaplok pada pertengahan 2010 itu sudah bisa menyumbang pendapatan.

Sekretaris Perusahaan KARK Endang Wijaya mengatakan, hingga akhir tahun, kapasitas produksi nikel ATN bisa mencapai 300.000 metrik ton (MT). Produksi itu pun sudah dipesan seluruhnya oleh sejumlah pembeli dari luar negeri. Bulan ini, tambang ATN di Luwuk, Sulawesi Tengah, sudah memproduksi 100.000 MT.

"Seluruh produksi kami untuk memenuhi permintaan ekspor ke China," ujar Endang kepada KONTAN, Selasa (24/8). Adapun,nilai jualnya sebesar US$ 30 per MT. Dari transaksi ini, KARK menaksir, ATN bisa meraup pendapatan US$ 9 juta di akhir 2010.


Selain China, lanjut Endang, Australia sebenarnya tertarik dengan nikel produksi ATN. Namun, Australia menginginkan nikel dengan kualitas sedang, yakni nikel berkadar 1,5%. Padahal, ATN hanya memproduksi nikel berkadar rendah 1,2% serta berkadar tinggi 1,9%.

Alhasil, jika ingin memenuhi pesanan dari pembeli di negeri Kanguru itu, ATN harus mengeluarkan tambahan biaya untuk mengombinasikan dua jenis nikel itu.Meski demikian, KARK tak menutup kemungkinan untuk memasok nikel ke Australia pada tahun depan. Namun, dengan syarat, volume produksi ATN terus bertambah, sehingga kenaikan pendapatan bisa menutupi tambahan biaya operasional.

Selain dari penjualan nikel, ATN memperoleh pendapatan lain dari jasa pengiriman nikel. ATN mematok biaya tambahan sebesar US$ 15-US$ 17 per MT untuk setiap pengiriman nikel berkualitas rendah dari lokasi tambang hingga ke pelabuhan.

Laba meningkat

Hingga akhir tahun ini, kontribusi penjualan nikel diperkirakan masih kecil. Pendapatan KARK masih akan bergantung pada bisnis batubara. Di semester I, total penjualan batubara perusahaan mencapai sekitar 1 juta metrik ton.

Lewat bisnis batubara ini, KARK mampu mengantongi pendapatan sebesar Rp 631,87 miliar, melonjak 865,87% daripada periode sama tahun ,lalu sebesar Rp 65,42 miliar. Mengingat batubara yang dijual KARK bukan milik sendiri, beban penjualannya sangat tinggi, yaitu mencapai sekitar Rp 630,5 miliar.

Alhasil, laba bersih yang diraih KARK hanya Rp 13,7 miliar. Namun hasil tersebut lebih tinggi 163,46% ketimbang laba semester I-2009, sebesar Rp 5,2 miliar.

Setelah masuk ke bisnis tambang, KARK akan menghentikan dua usaha realestat. Rencananya, PT Elok Asri Indah Permai akan dilepas ke anak usaha. Sementara itu, PT Lembah Seni Rejeki yang beraset Rp 18 miliar dijual ke pihak lain.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Uji Agung Santosa