Kartel produsen TV terbongkar Komisi Eropa



LONDON. Budaya persaingan yang sehat terkesan menakutkan bagi sejumlah produsen televisi (TV) di dunia. Alih-alih berkompetisi memenangkan hati konsumen, perusahaan berkelas internasional ini malah terlibat jaringan kartel.

Rabu (5/12) Komisi Eropa berhasil membongkar praktik tak sehat ini. Badan pengawas bisnis Uni Eropa ini telah menemukan bukti bahwa banyak produsen yang mengendalikan harga produk seperti TV, layar komputer, dan tabung cathode-ray selama satu dekade belakangan.

Tak mau sekadar gertak sambal dengan memberikan peringatan, Komisi Eropa langsung menjatuhkan sanksi berat. Hukuman perdata yang diberikan bahkan menjadi rekor denda di Eropa yakni mencapai 1,47 miliar euro atau setara dengan US$ 1,9 miliar. Sanksi tersebut dijatuhkan pada sejumlah produsen TV karena mengendalikan harga di pasar.


Perusahaan asal Jerman, Philips, mendapat denda terberat yakni 313,4 juta euro diikuti LG Electronics dari Korea Selatan sebesar  295,6 juta euro.

Industri lain yang pukul dengan denda adalah Panasonic, Samsung, Toshiba, dan Technicolor.

Sedangkan perusahaan Taiwan, Chunghwa Pictures Tubes, lolos dari ancaman denda 17 juta euro karena mengungkap tentang kartel produsen layar TV ini.

"Kartel dalam tabung cathode-ray seperti kartel dalam buku pelajaran: mereka memiliki semua bentuk terburuk tabung dari perilaku antipersaingan yang dilarang dengan tegas dalam perusahaan-perusahaan yang melakukan bisnis di Eropa," beber Komisioner Persaingan Uni Eropa, Joaquin Almunia.

Menurutnya, mereka beroperasi secara global selama periode 1996-2006 dan merupakan kartel yang paling terorganisir yang pernah diselidiki.

Disebut pertemuan hijau

''Bukannya bersaing satu sama lain untuk inovasi dan memberikan produk terbaik dengan harga terbaik, mereka malah bersekongkol untuk mempertahankan keuntungan semu dalam pasar teknologi yang menurun," tutur Almunia.

Itulah sebabnya Uni Eropa melawan kartel-kartel tersebut. Ambil contoh, tabung cathode-ray atau CRT merupakan komponen utama untuk pesawat TV dan layar komputer dijual dengan harga 50%-70% di atas harga produk akhir.

Kartel ini menyebut istilah “Pertemuan Hijau” di Asia dan Eropa untuk membahas penetapan harga. Disebut 'Pertemuan Hijau' karena biasanya setelah harga ditetapkan disusul dengan main golf.

Pihak-pihak yang menerima dokumen tentang pertemuan itu diminta untuk menghancurkannya setelah dibaca. Para produsen TV dan layar komputer itu mencegah persaingan harga di antara sesama mereka dengan mengendalikan kapasitas produksinya.

Editor: