KONTAN.CO.ID - Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia (BI) hadir kembali dari tanggal 20-23 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Acara ini membuktikan Bank Indonesia berkomitmen mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berkelanjutan dan memiliki daya saing. Mengusung tema besar "Beudaya Meusare-sare" yang memiliki makna filosofis "Berdaya, Bersama-sama", KKI 2026 dirancang bukan sekadar sebagai ajang pameran atau showcasing produk semata, tetapi turut menghadirkan ekosistem hulu ke hilir yang mengintegrasikan pendampingan, kurasi, digitalisasi, hingga akses pembiayaan yang lebih luas. Tidak sendiri, Bank Indonesia berkolaborasi bersama 27 kementerian dan lembaga, serta 34 mitra strategis lainnya yang terdiri dari perbankan desainer, industri, asosiasi, aggregator ekspor, industri retail, dan akademisi. Tercatat, pameran ini menghadirkan secara fisik sebanyak 550 UMKM unggulan yang telah dikurasi ketat secara luring atau naik 51,1% year on year (YoY). Sedangkan daring, KKI 2026 mencatat 1.300 UMKM atau tumbuh 14,6% YoY. Hingga 22 Agustus 2026, KKI tahun ini berhasil mencatat pencapaian yang impresif dengan total temu bisnis senilai Rp454,9 Miliar. Terdiri dari temu bisnis ekspor Rp169,9 miliar dari total 192 UMKM dan pembeli dari 16 negara. Ditambah temu bisnis pembiayaan mencapai Rp285 miliar atau meningkat 30,3% dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir. KKI 2026 mencatat capaian penjualan yang sangat positif. Selama empat hari penyelenggaraan pada 20–23 Agustus 2026, total penjualan UMKM mencapai Rp177,21 miliar, lebih tinggi dibandingkan penjualan KKI 2025 sebesar Rp130,84 miliar. Capaian ini menunjukkan kuatnya antusiasme masyarakat terhadap produk UMKM Indonesia.
Sinergi dan Perluasan Pembiayaan UMKM
Bank Indonesia mencatat, saat ini terdapat sekitar 64 juta pelaku UMKM di seluruh penjuru nusantara. Sektor ini memang telah lama menjadi tulang punggung perekonomian dengan daya serap tenaga kerja yang mencapai 97% dari total tenaga kerja nasional dan menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Akan tetapi, masalah pembiayaan sering menjadi batu sandungan dalam memperluas usaha. Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan, pentingnya peran UMKM sebagai penyangga stabilitas di tengah fluktuasi ekonomi global. UMKM berkontribusi lebih dari 60% terhadap produk domestik bruto nasional. Melalui KKI 2026, BI mendorong UMKM untuk terus tumbuh dan berdaya saing agar perekonomian nasional tetap bertumbuh. "Di tengah ketidakpastian ekonomi dan tantangan geopolitik global, kita perlu meningkatkan sinergi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar bisa tetap tumbuh dan mempunyai daya tahan yang kuat," ungkap Destry pada Kamis, 20 Agustus 2026 di JICC, Jakarta. Pertumbuhan kredit untuk sektor UMKM berada di level 1,62%. Angka ini masih tergolong kecil karena pembiayaan yang minim. Melalui gelaran KKI 2026, Bank Indonesia mengajak kalangan perbankan yang hadir untuk meningkatkan kredit produktif, sehingga dapat memperluas skala bisnis UMKM. "Saya mengajak perbankan untuk jangan hanya beli, tapi berikan kredit," lanjut Destry. Sedangkan untuk pengembangan UMKM, Bank Indonesia melalui 46 kantor perwakilan di dalam negeri dan 5 kantor perwakilan di luar negeri, terus mengimplementasikan tiga strategi utama. Pertama, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, terintegrasi, dan berdaya saing. Kedua, mendorong pembiayaan inklusif dan keuangan berkelanjutan dengan mempertemukan UMKM dengan berbagai pembeli (buyer) domestik maupun mancanegara melalui business matching. Ketiga, meningkatkan literasi dan sinergi ekonomi keuangan inklusif dan berkelanjutan yang makin meluas di kalangan pelaku usaha.Kontan - Bank Indonesia Kilas Online
© Foto oleh Bank Indonesia
Inovasi Pembayaran: MDR QRIS 0% dan KKI
Selain akses pembiayaan dan pasar, pilar penting lainnya dalam mendorong UMKM naik kelas adalah digitalisasi sistem pembayaran. Dalam momen KKI 2026 yang berdekatan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 pada 17 Agustus 2026, Bank Indonesia memberikan "kado" istimewa bagi pelaku UMKM dengan merilis kebijakan strategis di bidang sistem pembayaran digital. Kebijakan pertama adalah perluasan penyesuaian tarif Merchant Discount Rate (MDR) Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menjadi 0% untuk transaksi hingga Rp100.000 pada seluruh kategori merchant. Sementara untuk kategori usaha mikro, MDR 0% tetap berlaku untuk transaksi hingga Rp500.000. Destry berkata, kebijakan pembebasan tarif MDR QRIS ini bukanlah beban yang ditanggung oleh BI semata, melainkan wujud kepedulian dari seluruh ekosistem pembayaran di Indonesia. "Kebijakan kami ini adalah menunjukkan keberpihakan, bukan hanya dari Bank Indonesia, tapi ini adalah dari ekosistem sistem pembayaran kita, apakah itu Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran (PJSP), penyedia infrastruktur, termasuk payment gateway," tuturnya. Kebijakan strategis kedua yang diluncurkan bertepatan dengan KKI 2026 adalah pengenalan lebih luas mengenai implementasi Kartu Kredit Indonesia (KKI) segmen ritel. KKI hadir sebagai alternatif instrumen pembayaran domestik yang memfasilitasi penundaan pembayaran (deferred payment) dengan biaya yang sangat efisien dan terintegrasi langsung dengan ekosistem QRIS. Dua terobosan kebijakan ini diyakini akan memberikan ruang efisiensi biaya operasional dan transaksi yang sangat signifikan bagi UMKM, sekaligus mendongkrak daya beli masyarakat.Kontan - Bank Indonesia Kilas Online
© Foto oleh Bank Indonesia
Wastra dan kopi unggulan di KKI 2026
Pada gelaran tahun ini, pameran secara tematik menempatkan Provinsi Aceh sebagai sorotan utama. Wilayah di ujung barat Indonesia ini dikenal memiliki kekayaan budaya, kreativitas lokal, dan kerajinan unggulan. Pemilihan Aceh bukan tanpa alasan, selain kualitas produknya, BI juga ingin membangkitkan kembali semangat para pelaku UMKM di Aceh yang sempat terdampak bencana banjir bandang akhir tahun lalu. Hal yang sama juga ditujukan bagi para pengrajin di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sedang berjuang pulih pasca gempa bumi. Bank Indonesia memberikan ruang khusus bagi binaan UMKM dari Aceh dan NTT untuk unjuk gigi. "Kami coba mengangkat kembali mental mereka, semangat mereka bahwa masih ada yang melihat dan peduli dengan mereka. Insya Allah apa yang kita lakukan ini juga akan terus menambah spirit kepada teman-teman kita," tutur Destry. Dalam KKI 2026, produk wastra (kain tradisional nusantara) dan pangan, khususnya komoditas kopi, menjadi primadona bagi pecinta wastra dan kopi lokal maupun mancanegara. Pengalaman para UMKM binaan Bank Indonesia dalam memproduksi wastra dan kopi ini menunjukkan bagaimana standarisasi, kurasi, dan konsistensi mampu menembus tembok pasar global. Cornelis Ndapakamang contohnya. Pemilik jenama Tenun Ndapakamang asal NTT itu menilai KKI bukan sekadar ajang jualan sesaat, melainkan tempat memperluas relasi hingga lintas benua. Berpartisipasi selama lima tahun berturut-turut sejak KKI 2022, Cornelis membuktikan karya tenun yang menggunakan pewarna alam murni punya nilai jual tinggi di mata buyer nasional dan global. Bahkan, Cornelis mengaku, proses untuk bisa tampil di pameran bergengsi BI ini butuh konsistensi dan produk yang berkualitas sedari tahap kurasi. "Saya dikurasi dari tahun 2022 juga, lolos. Karena memang produk yang saya bikin itu semuanya menggunakan bahan warna alam sebenarnya," ungkap Cornelis. Ia tidak menjual produk turunan (seperti baju jadi bergaya modern), melainkan fokus pada lembaran kain wastra premium. Hal ini disengaja karena penggunaan pewarna alam memerlukan tambahan waktu dan biaya produksi yang tidak sedikit, sehingga memotongnya menjadi baju jadi seringkali dinilai mengurangi value orisinalitas kain tersebut. Meski demikian, ia terus berinovasi pada dimensi benang, dari yang semula tebal, kini ia menyediakan tenun dengan benang yang lebih tipis agar lebih nyaman dikreasikan sebagai material fesyen kelas atas. Keikutsertaannya sebagai binaan Bank Indonesia terbukti membuka gerbang bagi masuknya pembeli internasional. Ia bercerita, transaksi penjualannya seringkali terjadi secara organik ketika para pembeli asing mendatangi kediamannya di NTT setelah melihat produknya di pameran. "Ketika saya jadi binaan Bank Indonesia, itu sebenarnya jaringan untuk penjualan turunan jadi bagus. Karena di sini ketika saya ikut pameran ini, saya menemukan banyak para pencinta wastra yang memang cukup serius dengan produk yang menggunakan bahan-bahan alam," ujarnya bangga. Berkat konsistensi kualitas, karya Cornelis telah malang melintang di panggung dunia. Saat ini, lebih dari 15 pembeli asing aktif yang berasal dari berbagai negara di Eropa, Afrika, hingga Asia menjadi pelanggan tetapnya. "Tahun 2019 saya pameran di London, 2023 di Qatar, lalu kemarin bulan Mei tahun ini saya pulang dari Amsterdam, Belanda. Selanjutnya saya pameran ikut yang Wastra Textile Museum," ceritanya. BI tidak hanya memfasilitasi Cornelis dari segi pameran. Lewat Kantor Perwakilan BI, Cornelis rutin difasilitasi berbagai program capacity building seperti pelatihan onboarding digital, pembukuan, hingga promosi pemasaran, yang biasanya diadakan hingga tiga kali dalam setahun. Olahan kopi pun tampil menarik di KKI 2026. Lewat labirin yang dibuat dari bambu, pengunjung dapat mencicipi kopi khas dari berbagai daerah dan melihat langsung tanaman kopi tumbuh. Armiyadi pemilik Asa Coffee Gayo adalah salah satu brand yang tampil di sana. Menurutnya, sebagai daerah yang menjadi tema utama KKI 2026, persaingan bagi UMKM Aceh untuk lolos kurasi KKI sangat kompetitif. Menariknya, penilaian ini tidak dilakukan sembarangan, melainkan diuji kualitas rasanya (cupping) oleh penilai pihak ketiga yang independen. "Melalui sebuah kompetisi yang sangat ketat, dengan mengirimkan kopi berkualitas dari masing-masing UMKM yang ada di Aceh. Lalu yang terbaik dipilih," cerita Armiyadi mengenai proses kurasinya.Kontan - Bank Indonesia Kilas Online
© Foto oleh Nur Cholis
Kontan - Bank Indonesia Kilas Online
© Foto oleh Nur Cholis