Karyo: Gratiskan wanita hamil membawa keberuntung



Dengan modal pinjaman, Karyo Sampurno Mustiko membuka usaha soto kudus. Strategi menggratiskan perempuan hamil makan soto menjadi strategi andalan yang melambungkan Soto Kudus Kauman. Yakin dengan pasar, sejak tahun 2010, Karyo berani mewaralabakan usahanya.Setelah membantu temannya berjualan soto di Jakarta, Karyo Sampurno Mustiko memberanikan diri membuka usaha kuliner itu sendiri dengan mengusung nama Soto Kudus Kauman.Menurut Karyo, modal awal untuk berdagang soto adalah hasil pinjaman. "Waktu itu saya pinjam dari teman Rp 1,5 juta," kata Karyo mengenang, Uang sebanyak Rp 1 juta itu, lantas Karyo gunakan untuk membeli gerobak dan peralatan memasak. Sisanya sebanyak Rp 500.000 dia pakai untuk membayar sewa lapak kaki lima.Modal usaha Karyo lainnya adalah ilmu meracik soto yang ia dapat selama membantu temannya berdagang makanan itu. Tak disangka-sangka, soto olahannya membekas di lidah para pembeli.Pelanggan Karyo pun bertambah banyak. Alhasil, usaha sotonya berkembang dan memiliki cabang. Selain rasa soto yang khas, Karyo punya "magnet" lain untuk menarik pembeli.Salah satunya ialah, setiap pengunjung yang hamil gratis makan soto di Soto Kudus Kauman. Bukan tanpa alasan Karyo memberikan perlakuan istimewa bagi wanita hamil.Awalnya, Karyo menjelaskan, cara ini bukanlah strategi pemasaran. Tapi, semata-mata lantaran dia teringat pengalaman getir sang ibu yang ketika itu mengidam soto kudus cuma tidak kesampaian.Maklum, kala itu kondisi ekonomi orang tuanya sangat sulit, sehingga tak mampu membeli soto kudus. Mirisnya, waktu itu tidak ada penjual soto kudus yang iba, meski ibunya tengah hamil.Karyo mengingat peristiwa itu sebagai perjalanan hidup yang pahit. "Karena uang yang pas-pasan sehingga hanya cukup untuk makan dan bertahan hidup," tutur Karyo getir.Nah, berangkat dari pengalaman pahit itulah, Karyo berkomitmen untuk tidak menerima bayaran dari perempuan yang tengah hamil. Ternyata, cara itu menjadi strategi dan berkah pemasaran yang jitu. Soto Kudus Kauman makin dikenal orang.Keberhasilan yang Karyo raih tak membuat ia berpuas diri. Makanya, ketika mendapat tawaran pembinaan usaha dari Kementerian Perdagangan, dia langsung iyakan. Dari sinilah Karyo mulai mengenal dan belajar mengembangkan usaha dengan sistem waralaba.Di tahun 2010, Karyo pun mulai mewaralabakan Soto Kudus Kauman. Ia menggandeng tiga temannya, Ubaidilah, Basri, dan Sikin untuk ikut membesarkan usaha soto dengan sistem waralaba. Tak sampai setahun, tiga mitra usaha Karyo pun bergabung bersama Soto Kudus Kauman.Sayang, saat kesuksesan mulai di depan mata, Karyo pecah kongsi dengan salah satu temannya, Sikin. Sikin membuka usaha soto kudus dengan dengan nama Soto Kudus Kauman juga.Menurut Karyo, keputusan Sikin berpisah dan mendirikan usaha soto kudus sendiri menjadi cobaan terberat yang pernah dia alaminya selama berwirausaha. Tapi, dia berusaha tidak mempersoalkan kenyataan ini.Karyo menambahkan, sampai sekarang masalah tersebut belum selesai. Tapi, "Tidak apa-apa yang penting bisa sama-sama menjalankan," ujarnya.Kini, Karyo cuma bisa berharap Soto Kudus Kauman yang kini sudah punya 14 cabang bisa tetap eksis. Dan, ia akan mengelola sebaik-baiknya. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi