KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah musim rilis kinerja keuangan semester I-2026, sejumlah emiten ternyata menyimpan dana kas yang cukup besar. Bahkan nilainya mencapai puluhan triliun. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), misalnya, yang tercatat memiliki kas setara kas sebesar Rp 23,46 triliun per 30 Juni 2026. Angka tersebut melonjak signifikan 86,53% secara tahunan atau
Year on Year (YoY) dari Rp 17,42 triliun. Kenaikan utamanya disokong oleh kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp 1,72 triliun per 30 Juni 2026. Padahal di periode yang sama pada 2025, GOTO masih mencatatkan minus Rp 612,05 miliar.
Baca Juga: Bitcoin Tertekan Sentimen Global, Diversifikasi Bisa Jadi Kunci Investasi Kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan oleh GOTO juga terpantau menyusut signifikan dari minus Rp 1,13 triliun per 30 Juni 2025, kini hanya mencapai Rp 205,53 miliar per 30 Juni 2025. Bahkan kalau dibandingkan dengan posisi awal 2025, kas dan setara kas GOTO sudah meningkat Rp 1,27 triliun hanya dalam waktu enam bulan berjalan. Di awal 2026, total kas dan setara kas GOTO mencapai Rp 21,75 triliun. Kas jumbo juga dimiliki oleh PT
Bukalapak.com Tbk (BUKA). Per 30 Juni 2026, total kas dan setara kas BUKA mencapai Rp 14,24 triliun. Namun angka ini turun dibandingkan posisi yang sama di 2025. Per 30 Juni 2026, total kas dan setara kas BUKA mencapai Rp 17,16 triliun. Penurunan juga terjadi selama enam bulan pertama di 2026, yang mencapai Rp 2,46 triliun dari posisi Rp 16,21 triliun di awal 2026. Sebenarnya kas bersih yang diperoleh BUKA dari aktivitas operasi mencapai Rp 59,34 triliun per 30 Juni 2026. Ini melesat 83,32% secara tahunan dari Rp 9,89 triliun per 30 Juni 2025. Namun kas bersih yang digunakan BUKA untuk aktivitas investasi sampai dengan Juni 2026 mencapai Rp 2,32 triliun. Ini berbalik dari positif Rp 6,7 triliun per Juni 2025. Dari sektor lain ada, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) yang tercatat memiliki kas dan setara kas sebesar US$ 2,91 juta per 30 Juni 2026. Ini meningkat 8,82% dari posisi 30 Juni 2025.
Baca Juga: Tensi Geopolitik dan Isu BI Tekan Rupiah, Cek Proyeksi Perdagangan Jumat (31/7) Peningkatan arus kas dan setara kas juga terjadi selama Januari–Juni 2026 sebesar US$ 181.535, di mana pada awal 2026 total kas dan setara kas TPIA berada di posisi US$ 2,73 juta. Kenaikan tersebut ditopang oleh arus kas operasi yang berbalik positif menjadi US$ 9,61 juta. Selain itu penerimaan kas dari pelanggan melonjak menjadi US$ 5,185 miliar dari US$ 3,242 miliar. Meski demikian, besarnya kas dan setara kas tidak serta-merta menjadi sinyal bahwa emiten akan segera menggelar aksi korporasi seperti akuisisi, ekspansi, maupun pembagian dividen dalam waktu dekat.
Head of Research KISI Muhammad Wafi mengatakan kas besar memberikan fleksibilitas bagi perusahaan menghadapi perlambatan ekonomi, sekaligus membuka peluang melakukan ekspansi ketika valuasi aset sedang tertekan. "Kas besar memberi tiga keunggulan, yakni buffer menghadapi tekanan bisnis, fleksibilitas melakukan akuisisi saat valuasi aset murah, serta meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata kreditor dan mitra," katanya kepada Kontan, Kamis (30/7). Namun, Wafi mengingatkan kas yang terlalu lama mengendap juga dapat menekan efisiensi penggunaan modal. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan pengembalian ekuitas dan valuasi perusahaan di pasar. “Investor dapat mencermati indikator seperti
cash conversion cycle, return on invested capital dibanding weighted average cost of capital, serta free cash flow yield sebelum memutuskan berinvestasi,” jelasnya. Sebagai contoh, Wafi menyebut posisi kas GOTO menjadi bantalan penting selama proses perbaikan kinerja. Namun, BUKA masih menghadapi tantangan memperkuat bisnis inti meski memiliki likuiditas yang besar.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan kas merupakan aset paling likuid yang memberi keleluasaan perusahaan membiayai operasional maupun aksi korporasi. "Dengan kas yang berlimpah, perusahaan memiliki fleksibilitas kapan pun melakukan
corporate action yang dianggap menguntungkan tanpa harus meminjam dana dari perbankan," ucapnya. Meski demikian, Nico menilai kas yang terlalu lama menganggur dapat memunculkan persepsi negatif. Investor bisa menganggap perusahaan kehilangan inovasi atau belum memiliki strategi pemanfaatan modal yang optimal. Direktur Purwanto Asset Management Edwin Sebayang menimpali besarnya kas sebaiknya dipandang sebagai amunisi strategis. Namun, manfaatnya baru terasa apabila dikelola melalui alokasi modal yang tepat.
"
Cash is king, tetapi
capital allocation adalah kingmaker. Nilai kas baru tercipta ketika mampu dikonversi menjadi pertumbuhan laba, arus kas, atau pengembalian yang lebih tinggi bagi pemegang saham," tutur Edwin. Menurutnya, investor tidak seharusnya menjadikan besarnya kas sebagai satu-satunya dasar membeli saham. Kualitas arus kas operasi, profitabilitas, struktur modal, serta kemampuan manajemen mengalokasikan modal juga perlu dianalisis.
Baca Juga: Harga Minyak, Gas, dan Batubara Kompak Melemah, Apa Penyebabnya? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News