KONTAN.CO.ID - Raksasa bisnis India, Adani Enterprises, mengungkapkan bahwa sebuah lembaga pemerintah Amerika Serikat tengah melakukan penyelidikan sipil terkait sejumlah transaksi perusahaan, yang diduga melibatkan Iran atau pihak yang terkena sanksi AS. Perusahaan utama milik miliarder Gautam Adani itu menyatakan telah menerima permintaan informasi resmi dari
Office of Foreign Assets Control (OFAC), unit di bawah Departemen Keuangan AS, pada 4 Februari lalu. Permintaan tersebut muncul setelah diskusi sukarela yang dilakukan perusahaan terkait laporan media pada pertengahan 2025.
Baca Juga: Bos MU, Sir Jim Ratcliffe, Minta Maaf Usai Sebut Inggris Dikolonisasi Imigran Laporan Impor LPG Iran
Dilansir dari
Reuters, investigasi ini berakar pada laporan
The Wall Street Journal pada Juni 2025 yang menuduh perusahaan terkait Adani mengimpor gas petroleum cair (LPG) asal Iran ke India. Menurut laporan tersebut, pengiriman LPG diduga menggunakan rute pelayaran yang dirancang untuk menghindari sanksi ekonomi AS terhadap Iran. Saat laporan itu terbit, Adani Enterprises menolak keras tuduhan tersebut dan menyatakan tidak pernah secara sengaja terlibat dalam perdagangan LPG asal Iran ataupun upaya menghindari sanksi. Perusahaan kini menegaskan bahwa mereka secara proaktif dan sukarela membuka komunikasi dengan OFAC guna menanggapi tuduhan dalam laporan media tersebut.
Baca Juga: Profil Lengkap Alexei Miller, Bos Gazprom di Tengah Krisis Gas Transaksi Melalui Sistem Keuangan AS
Dalam keterangannya, Adani Enterprises menyebut OFAC sedang menyelidiki transaksi tertentu yang diproses melalui lembaga keuangan Amerika Serikat. Transaksi tersebut diduga mungkin melibatkan Iran atau pihak yang masuk dalam daftar sanksi AS, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun perusahaan menekankan bahwa komunikasi dari OFAC tidak menyebutkan adanya pelanggaran atau ketidakpatuhan yang telah terbukti. Adani juga menyatakan tidak memperkirakan dampak finansial terhadap kinerja perusahaan akibat penyelidikan ini.
Baca Juga: Elon Musk vs Jeff Bezos: Duel Miliarder AS Rebutan Bangun Pangkalan di Bulan Impor LPG Telah Berhenti Sejak Juni 2025
Adani Enterprises mengungkapkan bahwa mereka telah menghentikan seluruh impor LPG sejak 2 Juni tahun lalu. Reuters mencatat, kontribusi bisnis LPG terhadap pendapatan perusahaan relatif kecil, yakni hanya sekitar 1,46% pada tahun fiskal 2025. Setelah pengumuman penyelidikan, saham perusahaan sempat turun lebih dari 3% sebelum memangkas kerugian dan diperdagangkan turun sekitar 0,3% pada pukul 12.15 waktu India. Kelompok usaha Adani telah berada di bawah pengawasan ketat sejak awal 2023, ketika firma
short seller AS Hindenburg Research menuduh adanya manipulasi saham dan kejanggalan akuntansi. Konglomerat tersebut membantah seluruh tuduhan itu, tetapi sejak saat itu menghadapi tekanan regulator, hukum, dan pasar yang meningkat. Selain itu, laporan
WSJ juga menyebut bahwa Gautam Adani berupaya agar pemerintahan Presiden AS saat itu, Donald Trump, mencabut tuduhan suap dalam kasus terpisah.
Baca Juga: Jejak Roman Abramovich, Oligarki Rusia yang Mengubah Chelsea Jadi Raksasa Reputasi Gautam Adani Terancam
Gautam Adani merupakan salah satu orang terkaya di Asia dan pendiri Grup Adani, konglomerat yang memiliki bisnis luas mulai dari pelabuhan, energi, pertambangan, logistik hingga infrastruktur. Pertumbuhan agresif perusahaan-perusahaan Adani dalam dua dekade terakhir menjadikannya figur kunci dalam pembangunan infrastruktur India.
Reuters melaporkan bahwa sejak laporan Hindenburg pada 2023, kekayaan dan reputasi bisnis Adani sempat terpukul akibat aksi jual saham besar-besaran dan pengawasan regulator yang meningkat. Meski demikian, kelompok usaha Adani tetap menjadi pemain penting dalam sektor strategis India dan terus berupaya memulihkan kepercayaan investor global.
Baca Juga: Profil Daniel Ek dan Perjalanan Membangun Spotify dari Nol Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News