KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan kasus influenza di Indonesia berpotensi menjadi katalis bagi emiten rumah sakit menjelang akhir 2026. Kenaikan kebutuhan layanan kesehatan, terutama saat memasuki musim hujan, berpeluang mendorong kunjungan pasien dan volume rawat inap. Namun, prospek saham sektor ini juga akan ditentukan oleh kemampuan rumah sakit meningkatkan utilisasi, mengembangkan layanan medis, menjaga efisiensi, serta menghadapi risiko daya beli dan pembayaran klaim BPJS Kesehatan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan tingkat positif influenza meningkat menjadi 56% pada pertengahan September 2026, dari 44% pada awal September 2026. Sementara itu, tingkat positif influenza pada pasien dengan infeksi saluran pernapasan akut berat atau
severe acute respiratory infection (SARI) di 35 rumah sakit sentinel naik menjadi 53%, dari sebelumnya 28%.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan mulai berlangsung secara bertahap pada November hingga Desember 2026. Kondisi ini berpotensi mendukung peningkatan aktivitas influenza dan kebutuhan layanan rumah sakit pada kuartal IV-2026.
Baca Juga: Serangan Houthi Panaskan Tensi Global, Begini Arah Pergerakan Harga Emas Research Analyst MNC Sekuritas Muhammad Rudy Setiawan menyebut, kenaikan kasus influenza dapat menjadi penopang aktivitas rumah sakit menjelang akhir tahun. Kendati demikian, investor perlu melihat katalis ini secara proporsional karena dampaknya diperkirakan belum mengubah prospek keuntungan sektor dalam jangka menengah. “Meski musim influenza dapat mendukung volume pasien pada kuartal IV-2026, peningkatan tersebut bersifat musiman dan tidak mengubah prospek laba jangka menengah,” tulis Rudy dalam risetnya, pada (8/10/2026). Menurut Rudy, kinerja emiten rumah sakit ke depan juga akan dipengaruhi daya beli masyarakat dalam memilih kelas kamar serta kecepatan pembayaran klaim asuransi dan BPJS Kesehatan. Defisit Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan yang diproyeksikan mencapai Rp 21,2 triliun pada 2026 menjadi salah satu risiko yang perlu dicermati karena berpotensi memperlambat pembayaran klaim. Eksposur terhadap pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang berbeda di setiap emiten juga membuat dampak risiko tersebut tidak seragam. Porsi pasien JKN tercatat sekitar 10% di PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA), 16% di PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan 55% di PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL). Di sisi lain, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, prospek emiten rumah sakit berpotensi ditopang oleh peningkatan kunjungan pasien, optimalisasi kapasitas rumah sakit, serta pengembangan layanan medis. “MIKA relatif unggul dari sisi profitabilitas. Sementara itu, HEAL dan SILO memiliki peluang pertumbuhan melalui peningkatan utilisasi rumah sakit dan ekspansi layanan,” tutur Azis.
Prospek SILO ditopang peningkatan kompleksitas layanan Untuk SILO, Analis Maybank Sekuritas Paulina Margareta melihat prospek jangka menengah perusahaan tetap positif, didukung permintaan layanan kesehatan swasta yang tangguh, perbaikan bauran kasus pasien (
case mix), dan efisiensi operasional di seluruh jaringan rumah sakit. “Prospek SILO untuk jangka menengah tetap positif, ditopang permintaan layanan kesehatan swasta yang tangguh, perbaikan berkelanjutan dalam bauran kasus pasien (
case mix), serta efisiensi yang terus dilakukan di seluruh jaringan rumah sakit,” tulis Paulina dalam risetnya, pada (4/8/2026). SILO memiliki jaringan 41 rumah sakit di 23 provinsi di Indonesia. Jangkauan tersebut menjadi salah satu keunggulan perusahaan dalam menggarap pasar layanan kesehatan swasta. Selain itu, SILO berfokus pada layanan medis dengan tingkat kompleksitas tinggi yang berpotensi meningkatkan pendapatan perawatan dan memperkuat posisinya di segmen premium.
Baca Juga: Ekspor MHP Jadi Katalis Harum Energy (HRUM), Simak Rekomendasi Sahamnya “Perusahaan terus menjalankan strateginya dengan baik untuk meningkatkan kompleksitas perawatan sembari menjaga disiplin pengendalian biaya,” ujar Paulina. Paulina memperkirakan pendapatan dan EBITDA SILO masing-masing tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau
compound annual growth rate (CAGR) sebesar 9% pada periode tahun buku 2026–2027. Proyeksi tersebut didukung peningkatan kapasitas dan permintaan, intensitas perawatan yang lebih tinggi, serta kenaikan harga jual rata-rata (
average selling price/ASP) layanan rawat jalan dan rawat inap. Dari sisi ekspansi, SILO menargetkan pembukaan satu hingga dua rumah sakit baru per tahun, lebih rendah dari sebelumnya empat hingga lima rumah sakit, dengan fokus pada wilayah berpenduduk padat. Efisiensi melalui negosiasi ulang pasokan medis dan sentralisasi pengadaan juga berpotensi menopang profitabilitas. Namun, rencana pembelian kembali portofolio aset First REIT berpotensi membutuhkan dana hingga Rp 9 triliun, termasuk aset terkait opsi jual (
put option). Menurut Paulina, transaksi ini berisiko meningkatkan
leverage dan beban bunga serta membatasi fleksibilitas keuangan dalam jangka pendek, meski berpotensi memberikan manfaat strategis jangka panjang. Prospek SILO juga dapat membaik jika volume pasien melampaui perkiraan, efisiensi meningkat, ketersediaan dokter berkualitas bertambah, dan pembayaran JKN lebih menguntungkan. Sebaliknya, pelemahan daya beli, kenaikan biaya yang tidak dapat diteruskan kepada pelanggan, serta perubahan regulasi yang merugikan dapat menekan kinerja.
Baca Juga: Emas mengalami Penyesuaian Harga, Pembelian Bank Sentral Jadi Penopang Utama Dari sisi rekomendasi saham, Rudy merekomendasikan
buy untuk HEAL dengan target harga Rp 900 per saham. Rudy juga merekomendasikan
buy untuk MIKA dengan target harga Rp 3.000 per saham serta SILO dengan target harga Rp 2.750 per saham. Sementara itu, Paulina Margareta mempertahankan rekomendasi
buy untuk SILO dengan target harga Rp 2.500 per saham. Kenaikan kasus influenza dan datangnya musim hujan berpotensi mendukung aktivitas layanan rumah sakit pada akhir 2026. Namun, investor tetap perlu memperhatikan kemampuan setiap emiten mengonversi kenaikan kunjungan menjadi pendapatan dan laba, strategi peningkatan layanan, efisiensi operasional, serta risiko pembayaran klaim dan kebutuhan belanja modal. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News