Kasus Mycoplasma Pneumoniae Terdeteksi di Indonesia: Ini Gejala dan Cara Penularannya



KONTAN.CO.ID - Bakteri Mycoplasma pneumoniae menyebabkan infeksi ringan pada sistem pernapasan. Terkadang, Mycoplasma pneumoniae dapat menyebabkan penyakit pneumonia.

Seperti diketahui, infeksi bakteri  Mycoplasma pneumoniae melanda Tiongkok Utara dan mayoritas menyerang anak-anak. Kementerian Kesehatan pun telah mendetekasi infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae di Indonesia. 

Dikutip dari Kementerian Kesehatan, ada 6 kasus Mycoplasma Pneumoniae. Dari 6 pasien yang terkonfirmasi, 5 pasien pernah dirawat di RS Medistra dan 1 pasien di RS JWCC, Jakarta.


Seluruh pasien yang terinfeksi Mycoplasma Pneumonia adalah anak-anak berusia 3-12 tahun. Gejala awal yang paling umum ditemukan, yakni panas dan batuk, sesak ringan hingga sulit menelan.

Lantas, seperti apa penularan dan gejala infeksi bakteri Mycoplasma Pneumonia?

Baca Juga: Kasus Mycoplasma Pneumoniae Terdeteksi, Prodia (PRDA) Siapkan Pemeriksaan Penunjang

Apa itu Mycoplasma Pneumonia?

Mycoplasma pneumoniae adalah bakteri yang dapat menyebabkan penyakit dengan cara merusak lapisan sistem pernapasan seperti tenggorokan, paru-paru, dan batang tenggorok.

Sehingga, bakteri Mycoplasma pneumoniae menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan hingga pneumonia. Namun, gejala pneumonia akibat infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae tergolong ringan dan berbeda dengan pneumonia biasa. 

Baca Juga: Kasus Mycoplasma Pneumoniae Terdeteksi di Jakarta, Begini Kata Epidemiolog

Gejala

Gejala Mycoplasma pneumoniae seringkali ringan dan muncul dalam waktu satu hingga tiga minggu. Namun, gejala Mycoplasma pneumoniae mungkin menjadi lebih parah pada beberapa orang.

Dirangkum dari laman Centers for Disease Control and Prevention, berikut gejala Mycoplasma pneumoniae secara umum:

  • Nyeri dada
  • Panas dingi
  • Batuk, biasanya kering dan tidak berdarah
  • Keringat berlebihah
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Sakit tenggorokan
Baca Juga: Tenang! Obat Mycroplasma Pneumonia Tersedia di Puskesmas & Bisa Pakai BPJS Kesehatan

Gejala Mycoplasma pneumoniae yang kurang umum meliputi:

  • Sakit telinga
  • Nyeri ada mata
  • Nyeri otot dan kekakuan sendi
  • Benjolan di leher
  • Nafas cepat
  • Lesi atau ruam kulit
Baca Juga: Tingkat Fatalitas Mycoplasma Pneumonia Lebih Rendah Dibanding COVID-19

Cara penyebaran bakteri Mycoplasma pneumoniae 

Cara penularan atau penyebaran bakteri Mycoplasma pneumoniae bisa melalui droplet orang yang terinfeksi bakteri tersebut. 

Dirangkum dari laman Mount Sinai, waktu penularan bakteri Mycoplasma pneumoniae cukup singkat. Bakteri tersebut sering kali menyebar di antara orang-orang yang tinggal bersama karena mereka sering menghabiskan waktu bersama. 

Penularan bakteri M. pneumoniae sebagian besar terjadi di tempat ramai seperti sekolah, asrama perguruan tinggi, fasilitas pelatihan militer, fasilitas perawatan jangka panjang, dan rumah sakit.

Jika ada yang terinfeksi Mycoplasma pneumoniae di sekolah, maka orang-orang di sekitar mereka biasanya mudah tertular oleh infeksi tersebut. 

Baca Juga: Dokter Menyebut Kasus Pneumonia Anak Melonjak 10% di RSAB Harapan Kita

Diagnosa Mycoplasma pneumoniae 

Orang yang diduga menderita pneumonia akibat infeksi bakteri Mycoplasma pneumoniae harus menjalani evaluasi medis lengkap. 

Biasanya rontgen dada dilakukan untuk mendiagnosa pneumonia, bronkitis, atau infeksi pernapasan lainnya. Bergantung pada seberapa parah gejala, tes lain mungkin dilakukan, termasuk:

  • Pemeriksaan hitung darah lengkap (CBC)
  • Tes darah
  • Bronkoskopi (jarang diperlukan)
  • CT scan dada
  • Mengukur kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah ( gas darah arteri )
  • Usap hidung atau tenggorokan untuk memeriksa bakteri dan virus
  • Biopsi paru terbuka (hanya dilakukan pada penyakit yang sangat serius bila diagnosis tidak dapat ditegakkan dari sumber lain, sehingga sangat jarang diperlukan)
  • Tes dahak untuk memeriksa bakteri mikoplasma
Demikian penjelasan mengenai bakteri Mycoplasma pneumoniae, gejala, penularan, dan diagnosanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News