Kasus suap Ketua MK, dinasti Atut jadi sorotan



Jakarta. Nama Ratu Atut Chosiyah naik daun dua pekan terakhir. Gubernur Banten ini terseret dalam pusaran dugaan kasus suap yang menghebohkan jagat hukum Indonesia lantaran melibatkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar dan sang adik Tubagus Chaery Wardhana.Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Akil dan Tubagus Chaery Wardhana alias Wawan di tempat terpisah di Jakarta, Rabu (2/10) malam. Tudingannya, Wawan memberikan suap dalam bentuk uang tunai Rp 1 miliar kepada Akil terkait sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Lebak di MK.Setelah melakukan pemeriksaan maraton, KPK menahan Akil dan Wawan. Tak hanya itu, lembaga pemberantas korupsi ini juga melakukan pencegah an terhadap Atut agar tidak bisa bepergian ke luar negeri. KPK berencana memeriksa Atut.Jumat (11/10) pekan lalu, Atut memenuhi panggilan KPK. Di datang ke gedung KPK dengan kawalan beberapa ajudan. Gubernur perempuan pertama di Indonesia ini memenuhi panggilan KPK sebagai saksi atas kasus suap Akil.Mengenakan baju batik berwarna ungu dan kerudung hitam, Atut hanya melempar senyum ke wartawan. Tak ada satu patah kata pun terucap. Begitu juga usai menjalani pemeriksaan selama delapan jam, ia diam seribu bahasa.Belum jelas peran Atut dalam kasus suap tersebut. Cuma, dia disebut-sebut sebagai orang yang memerintahkan pemberian suap melalui Susi Tur Andayani, pengacara spesialis perkara pilkada di MK yang kini berstatus tersangka dan ditahan KPK. Atut kabarnya meminta Wawan menyediakan uang Rp 1 miliar untuk diberikan kepada Akil melalui Susi.Ketemu di SingapuraTapi, pekan ini keterlibatan Atut mulai sedikit terkuak. Wawan yang kini mendekam di ruang tahanan KPK mengakui bertemu dengan Akil dan kakaknya di Singapura. “Pertemuan dengan Pak Akil di Singapura benar ada. Wawan ke sana untuk nonton F1. Bu Atut juga sudah ada di sana. Berangkatnya tidak sama-sama,” ujar Pia Akbar Nasution, kuasa hukum Wawan.Menurut Pia, kedatangan Wawan ke Singapura untuk bertemu dengan Akil. Namun, dalam pertemuan itu Wawan hanya menemani Atut. “Tidak ada pembicaraan yang spesifi k. Wawan, kan, hanya nemenin Bu Atut di situ,” tambah Pia.Cuma, Otto Hasibuan, kuasa hukum Akil, membantah kliennya melakukan pertemuan dengan Atut dan Wawan di Singapura. Kepergian Akil ke Negeri Merlion hanya untuk keperluan pengobatan. Akil berangkat ke Singapura bersama ajudannya. Akil dua kali pergi ke Singapura: pertama, untuk menjalani rawat inap. Kedua, untuk kontrol atawa check up.Informasi yang diperoleh KONTAN, Akil dan Atut berada di Singapura pada Maret, Agustus, dan September 2013.Selebihnya, peran Gubernur Banten yang menjabat dua periode (2007–2012 dan 2012–2017) ini masih misterius. Tak heran, Atut masih berstatus sebagai saksi, meski KPK mencekalnya untuk bepergian ke luar negeri selama enam bulan.Adnan Pandu Praja, Wakil Ketua KPK, bilang, lembaganya perlu mencegah Atut karena akan melakukan klarifi kasi informasi dari beberapa pihak yang telah diterima oleh penyidik KPK. KPK menganggap, sebagai kepala daerah Atut tentu mengetahui kasus ini. “Kami akan mengetahui perannya setelah melakukan pendalaman informasi,” kata Adnan.Kasus suap Akil tidak hanya menyeret nama Atut, tapi juga “dinasti” Atut di Banten. Sorotan publik melebar kepada keluarga besar Atut yang menduduki kursi eksekutif maupun legislatif di Banten. Dari delapan kabupaten dan kota di provinsi ke-30 di Indonesia ini, empat di antaranya “dikuasai” kerabat Atut. Dua adik Atut, Tubagus Khaerul Zaman dan Ratu Tatu Chasanah, masingmasing menjabat Wakil Wali Kota Serang dan Wakil Bupati Serang. Lalu, Heryani (ibu tiri Atut) menjadi Wakil Bupati Pandeglang dan Airin Rachmi Diany (adik ipar Atut yang juga istri Wawan) sebagai Walikota Tangerang Selatan.Selain “menguasai” eksekutif, keluarga Atut juga bercokol di parlemen. Sang suami, Hikmat Tomet, menjadi anggota DPR. Anaknya, Andika Hazrumy, duduk di kursi anggota DPD. Lalu, istri Andika, Ade Rossi Khoerunisa, menjadi Wakil Ketua DPRD Serang.Proyek pemerintahGubernur yang menjadi tokoh penting Partai Golkar di Banten ini dituding banyak memanfaatkan jabatan untuk menguntungkan keluarganya lewat perusahaan keluarga dan jaringannya. Perusahaan keluarga Atut mendapat banyak proyek dari pengadaan barang dan jasa pemerintah, baik di tingkat provinsi, kabupaten, kota, maupun pusat.Di pemerintah pusat, berdasarkan catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), perusahaan yang memiliki hubungan langsung dengan keluarga Atut mengerjakan proyek konstruksi dan infrastruktur jalan dan jembatan di Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU). “Di lingkungan pemerintah daerah (pemda) di Banten, sebagian besar berasal dari Dinas Bina Marga, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan,” kata Firdaus Ilyas, Koordinator Badan Pekerja ICW.ICW dan jaringannya di Banten menemukan, di Kementerian PU dan pemda di Banten, perusahaan yang dikendalikan langsung oleh keluarga Atut diperkirakan meraup 72 proyek dengan total nilai mencapai Rp 723,33 miliar. Ditambah perusahaan yang masuk dalam jaringan keluarga, catatan ICW lebih jumbo lagi: Atut diperkirakan memenangi 172 proyek senilai total Rp 1,14 triliun selama 2008–2013.Tidak mengherankan, kekayaan keluarga Atut berlimpah ruah. Contoh, sewaktu menggeledah rumah Wawan di kawasan elite di Jalan Denpasar, Jakarta, KPK menemukan deretan mobil mewah di garasi. Ada 11 mobil mewah dari berbagai merek, seperti Ferrari, Bentley, dan Lamborghini.Dalam laporan kekayaan tahun 2010, harta Airin, istri Wawan, mencapai Rp 103 miliar. Sedang harta Atut berdasarkan laporan kekayaan tahun 2006 senilai Rp 41,9 miliar. Airin memilih bungkam soal kekayaannya yang segunung itu. “Masih suasana Idul Adha, nanti saja saya jelaskan,” kata Airin yang pernah gagal menjadi Wakil Bupati Tangerang saat berpasangan dengan Jazuli Juwaini dalam Pilkada Kabupaten Tangerang 2008, saat ditemui KONTAN usai salat Idul Adha di lapangan kantor pemerintah Tangerang Selatan.Fitron Nur Ikhsan, juru bicara Atut, mengatakan, kekayaan Atut masih wajar karena dia merupakan anak seorang pengusaha besar di Banten, Tubagus Chasan Sochib. “Ibu Atut sendiri pengusaha sejak lama. Orang tuanya pengusaha sejak 1960-an dan sudah dapat proyek besar di 1970-an,” ujarnya. ***Sumber : KONTAN MINGGUAN 4 - XVIII, 2013 Laporan Utama

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Imanuel Alexander