Kata Faisal Basri Soal Pelemahan Rupiah Meski Neraca Dagang Surplus Jumbo



KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia mencetak surplus dalam tiga tahun berturut-turut. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan surplus neraca perdagangan pada tahun 2020 sebesar US$ 21,6 miliar, kemudian pada tahun 2021 sebesar US$ 35,3 miliar, dan dari Januari hingga November 2022 surplus US$ 50,6 miliar. 

Bila menyorot pada tahun 2022, dengan surplus jumbo neraca perdagangan, nilai tukar rupiah justru terpantau melemah. 


Pantauan Bank Indonesia (BI) menunjukkan, hingga 21 Desember 2022, rupiah terdepresiasi 8,56% sejak awal tahun atau year to date (ytd) bila dibandingkan dengan level akhir 2021. 

Baca Juga: Mendag Zulkifli Hasan Optimis Perdagangan Indonesia Tumbuh Positif di Tahun Baru 2023

Ekonom Senior INDEF Faisal Basri mengungkapkan, memang idealnya surplus neraca perdagangan diikuti dengan penguatan nilai tukar rupiah. Terlebih, surplus perdagangan didorong oleh lebih tingginya nilai ekspor bila dibandingkan impor. 

Namun, bila melihat di Indonesia, Faisal melihat para eksportir masih enggan membawa masuk devisa hasil ekspor (DHE) nya ke dalam negeri. 

"Ekspor yang meningkat pesat ini, DHE nya tidak dibawa ke dalam negeri. Para grup besar eksportir, menaruh DHE di luar negeri, makanya rupiah tidak menguat," terang Faisal dalam diskusi publik, Kamis (5/1). 

Selain karena DHE yang tidak dibawa masuk ke dalam negeri, Faisal juga menyiratkan pertumbuhan ekspor Indonesia pada beberapa tahun terakhir kurang maksimal. 

Baca Juga: Rupiah Sulit Melesat Kendati Fundamental Kuat

Keuntungan neraca perdagangan yang didapat bukan karena kinerja ekspor yang meningkat di seluruh sektor, tetapi karena buah dari kenaikan harga komoditas. 

"Ekspor kita masih terkonsentrasi di tiga komoditas, yaitu batubara, CPO, juga besi dan baja. Jadi, memang cuma komoditas ini yang paling banyak menyumbang," tandasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli