Katalis Stimulus China Berdampak Minimal Bagi Mata Uang Kawasan Asia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Langkah stimulus China dinilai tidak akan cukup berdampak bagi pergerakan mata uang kawasan Asia. Sejauh ini, mata uang Asia tetap datar di tengah upaya China memulihkan kondisi perekonomian.

Pekan lalu, People’s Bank of China (PBoC) mengumumkan pekan lalu bahwa mereka akan mengurangi rasio persyaratan cadangan bank sebesar 50 basis poin bulan depan dalam upaya untuk mendukung perekonomian negara yang sedang kesulitan. Langkah ini diharapkan dapat memberikan sekitar 1 triliun yuan modal jangka panjang bagi perekonomian.

Di tempat lain, kabinet China berjanji untuk menstabilkan pasar modal. Para pembuat kebijakan dilaporkan berupaya untuk mengerahkan sekitar 2 triliun yuan, terutama dari rekening luar negeri perusahaan-perusahaan milik negara China.


Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai bahwa kebijakan yang diambil PBOC tersebut terlihat lebih mempengaruhi harga saham, dibandingkan pasar mata uang. Hal itu tercermin dari lonjakan harga saham, dengan patokan Hong Kong melonjak sebesar 3,6% usai pengumuman gubernur PBOC.

“Langkah bank sentral China ini tampaknya merupakan bagian dari upaya bersama untuk menstabilkan pasar dan meningkatkan kepercayaan terhadap prospek negara ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut,” kata Sutopo kepada Kontan.co.id. Senin (29/1).

Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah pada Selasa (30/1), Simak Sentimennya

Sutopo menuturkan, pasar saham Tiongkok telah melemah dalam beberapa bulan terakhir karena para investor menarik dana mereka seiring keputusasaan karena pemulihan yang lemah dari guncangan pandemi COVID-19.

Sementara di pasar valuta, Yuan (CNY) sempat mengungguli Dolar pada hari Rabu pekan lalu, namun hanya bersifat sementara. Sejak saat itu Yuan telah melemah kembali terhadap dolar AS. Bahkan dalam 3 hari perdagangan terakhir Yuan telah melemah sekitar 0,5% terhadap dolar (USD).

Sutopo menyebutkan, langkah pemotongan persyaratan cadangan deposito sebesar 0,5 poin persentase mulai 5 Februari akan menyuntikkan sekitar 1 triliun yuan ke dalam perekonomian. Per Desember, rasio giro wajib minimum adalah 7,4%. Selain itu, Bank sentral China juga berencana segera mengeluarkan kebijakan mengenai pinjaman kepada pengembang properti untuk membantu mendukung industri.

Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong menambahkan bahwa tentunya stimulus China tersebut disambut positif investor. Hanya saja, kemungkinan dampaknya tidak akan terlalu signifikan bagi  pasar.

“Masalah utama adalah sentimen investor dan permintaan baik internal maupun eksternal yang masih lemah. Stimulus ini lebih ditujukan untuk memulihkan satu masalah yaitu properti yang sangat terpuruk di China,” imbuh Lukman kepada Kontan.co.id, Senin (29/1).

Baca Juga: Dampak Stimulus China Bagi Mata Uang Rupiah Masih Perlu Diamati

Lukman mengamati, efek stimulus China guna pemulihan ekonomi ini pastinya akan meluas ke seluruh mata uang regional terutama negara yang sangat bergantung pada perdagangan dengan China seperti Australia. Namun, sentimen ini tampaknya hanya jangka pendek, sehingga belum mampu mendukung mata uang Asia lainnnya.

Sutopo sependapat bahwa stimulus China akan berdampak pada penguatan mata uang negara yang bermitra dengan Tiongkok, seperti Dolar Australia dan Dolar Selandia baru. Sebab, kedua negara tersebut merupakan mitra utama dalam perdagangan.

“Bangkitnya ekonomi Tiongkok kembali akan secara langsung berkontribusi pada penguatan mata uang antipodean,” ujar Sutopo.

Sementara itu, Sutopo melihat langkah China membenai perekonomian melalui stimulus tidak begitu mempengaruhi nilai tukar Rupiah. Faktanya, rupiah tetap melemah terhadap Yuan sebesar 1,5% pada minggu lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati