Kausnya unik, labanya pun menarik



Tampil sehari-hari mengenakan kaus kreatif kini sudah menjadi tren di kalangan anak muda. Tren tersebut tentu memicu penjualan kaus kreatif. Makanya, banyak pebisnis buru-buru menangkap peluang ini. Dalam sebulan, omzet produsen kaus kreatif mencapai puluhan juta rupiah.Kaus oblong dengan desain gambar maupun kata-kata unik, lucu dan kreatif semakin banyak penggemarnya. Bukan cuma di kalangan anak muda, produk kaus unik ini juga disukai orang dewasa dan anak-anak. Selain modis dan bergaya, umumnya mereka menyukai kaus ini juga dari pesan moral, kritikan atau semboyan bernada humor dan pelesetan yang menempel pada kaus. Sudah begitu, modelnya pun sekarang juga semakin trendi dan tidak mati gaya. Bagi pemakainya, tema-tema yang terpampang di kaus yang mereka kenakan bak menunjukkan identitas dan jati diri mereka. Ini pula yang membuat kaus ini cepat mendapat tempat.Tren ini tentu saja membawa berkah bagi produsen kaus kreatif. Dengan bekal kemampuan mendesain gambar serta menuangkan kata-kata unik, para produsen kaus kreatif meraup omzet puluhan juta dari ceruk usaha ini. Ambil contoh, M. Alfian Rendra Saputra, pemilik Rendra Garment di Yogyakarta. Ia merintis usaha pembuatan kaus unik ini sejak 2008. Kebetulan sejak SMA ia memiliki hobi mendesain kaus. Dengan menyasar kalangan mahasiswa dan anak muda, lelaki 21 tahun ini mampu mendesain dan menjual kaus kreatif sebanyak 1.000 buah per bulan. Menurutnya, bisnis kaus kreatif sangat menjanjikan. "Terlebih anak muda zaman sekarang cenderung idealis dalam berpakaian," sahutnya. Agar produk kausnya disukai, ia berusaha untuk terus mencari tahu selera konsumennya. Hal itu pula yang membuat Rendra berubah haluan. Bila sebelumnya ia mencetak kaus kreatif secara massal, kini ia memproduksi berdasarkan pesanan atau keinginan konsumen. Dengan begitu, ia bisa mengakomodasi keinginan pelanggan serta tahu selera pasar. "Mengetahui selera pasar itu penting karena dengan begitu pesan yang disampaikan lewat kaus cepat mengena, baik bagi pemakai dan orang lain yang melihatnya," ujarnya. Dengan harga jual Rp 40.000-Rp 45.000 per kaus, Rendra mampu meraup omzet Rp 40 juta-Rp 45 juta per bulan. Laba bersih yang didapatnya 25%-30% dari omzet. "Kami sering mendapat pesanan dari Kalimantan dan Semarang," ujarnya.Fokus pada gambarBisnis pembuatan kaus kreatif juga ditekuni Komang Dharma Santika, pemilik gerai R`BHI di Denpasar, Bali. Bedanya, ia hanya fokus pada desain gambar kaus yang unik dan menarik. "Jadi kalau yang lain main kata-kata, saya gambar," ujarnya.Desain gambar kaus yang dibuatnya lebih memadukan unsur tradisional dan modern. Awalnya, Komang hanya fokus mendesain pakaian tradisional Bali. Misalnya, pakaian penari Bali, penabuh gamelan, serta pengarak Ogoh-Ogoh. Namun di sela-sela itu, ada juga mahasiswa yang memesan desain kaus padanya. Nah, pesanan mahasiswa ini coraknya lebih modern. Jadilah, lulusan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar ini serius menekuni usaha kaus kreatif. Berkat usahanya ini, ia terpilih mewakili Bali mengikuti Wirausaha Mandiri 2009. Kini Komang memiliki dua gerai yang melayani jasa desain kaus sesuai pesanan atau menjual kaus desain sendiri secara eceran. "Produksi kaus saya buat limited edition. Tiap bulan ada 12 desain yang dikeluarkan, satu desain diproduksi dua lusin saja," ujarnya. Dari usahanya ini, setiap bulan ia meraup omzet sekitar Rp 30 juta - Rp 40 juta. Sementara pada bulan tertentu, seperti Hari Raya Nyepi atau Hari Kemerdekaan, omzetnya bisa mencapai Rp 100 juta. Sukses berbisnis kaus kreatif juga dirasakan Ni'matul Mukminin Fadly, pengusaha kaus kreatif dari Yogyakarta. Terjun ke usaha ini sejak 2011, ia mengantongi omzet Rp 25 juta - Rp 30 juta per bulan. "Keuntungan saya sekitar Rp 10 juta dari omzet" ujarnya.Berbeda dengan pemain lain, Fadly memasarkan kausnya lewat internet melalui situs KaosKampusDotCom. Sesuai dengan nama situsnya, Fadly memang lebih membidik kalangan mahasiswa. "Bagi mahasiswa, kaus kreatif itu menjadi tanda eksistensi, narsis sekaligus motivasi," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Tri Adi