Kawasan Barelang Dibidik Jadi Kawasan Data Center, Kesiapan Infrastruktur Jadi Kunci



KONTAN.CO.ID - BATAM. Kawasan Transmigrasi Barelang, Batam, Kepulauan Riau, mulai diarahkan sebagai ruang baru untuk investasi, termasuk industri pusat data atau data center. Potensi tersebut ditopang posisi Batam yang strategis di kawasan regional serta kesiapan infrastruktur dan ekosistem usaha yang terus diperkuat. Kementerian Transmigrasi menyebut, Barelang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekonomi baru. Arah tersebut merupakan bagian dari konsep “Transmigrasi Baru” yang tidak lagi sekadar menempatkan masyarakat, tetapi membangun aktivitas ekonomi, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan warga. Salah satu sektor yang dinilai prospektif adalah data center. Industri ini membutuhkan dukungan utilitas dan konektivitas yang kuat, mulai dari pasokan listrik, air, jaringan telekomunikasi, hingga kepastian tata ruang dan perizinan. Direktur Perencanaan dan Pengembangan Investasi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) Irfan Syakir Widyasa mengatakan, perkembangan industri di Batam semakin beragam. Menurutnya, masuknya industri data center yang bersifat padat modal perlu berjalan beriringan dengan kehadiran industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Baca Juga: Data Center Jadi Magnet Investasi, Kadin Minta Investasi Beri Efek Berganda ke RI “Industri data center yang kita tahu sangat padat modal itu, di Batam juga diimbangi dengan berbagai industri padat karya. Hanya saja yang padat karyanya ini masih proses penyiapan lahan, perizinan, dan penyiapan-penyiapan,” ujar Irfan dalam Workshop Kehumasan dan Media Gathering Kementerian Transmigrasi di Batam, Kamis (8/10/2026). Untuk menangkap peluang tersebut, kesiapan utilitas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proyek tersebut. BP Batam mencatat kapasitas eksisting, komitmen dan pipeline data center di Batam mencapai 1,47 gigawatt (GW) IT per September 2026. Angka tersebut mencakup ekosistem data center Batam secara keseluruhan, bukan khusus Barelang. Untuk mengantisipasi kebutuhan energi dan utilitas, BP Batam terus memperkuat pasokan listrik, air, serta infrastruktur pendukung. Di sektor air, BP Batam juga mendorong pengembang data center memanfaatkan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) agar kebutuhan industri tidak mengurangi pasokan air untuk masyarakat. Selain utilitas, kepastian perizinan menjadi faktor lain dalam menarik investor. BP Batam menyebut sejumlah kewenangan yang sebelumnya diproses di tingkat pusat telah ditarik ke Batam untuk memperpendek waktu pelayanan. Irfan mencontohkan proses analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang secara normal dapat mencapai 150 hari di tingkat pusat. Setelah kewenangan tersebut berada di Batam, waktu proses disebut dapat dipangkas menjadi 29 hari. Sementara proses Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (PKKPRL) yang di pusat, dapat membutuhkan waktu hingga 12 bulan disebut dapat diproses dalam 14 hari di BP Batam. “Sebagai contoh untuk AMDAL normalnya di pusat kalau lengkap itu 150 hari, maka ditarik ke Batam dipangkas jadi 29 hari. Demikian juga PKKPRL di pusat itu bisa 12 bulan SOP-nya, di Batam di BP Batam ditarik hanya 14 hari,” jelasnya.

Baca Juga: Ekspansi Data Center Indonesia Melesat, IDPRO Bidik Kapasitas 12 GW pada 2030 Kesiapan tenaga kerja juga menjadi bagian dari strategi Batam untuk menarik industri baru. BP Batam ingin memastikan perusahaan yang masuk dapat memperoleh tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri dan telah tersertifikasi. “Ke depan Batam akan promosi bahwa kalau perusahaan buka di Batam, kita siap talent-nya, siap human resource-nya yang tersertifikasi,” kata Irfan. Peluang tersebut juga tidak hanya bertumpu pada Rempang. Irfan menyebut sejumlah lokasi lain tengah dipersiapkan untuk menampung kegiatan ekonomi berskala besar, seperti Galang GCEB, Pulau Tanjung Sauh, dan Pulau Stopo. Sejumlah kawasan industri di Batam juga terus melakukan ekspansi. “Tidak hanya Rempang Eco-City, ada yang sama besarnya nanti di Galang, Galang GCEB, lalu di Pulau Tanjung Sauh sama besarnya, di Pulau Stopo sama besarnya,” ujarnya. Kondisi tersebut menjadi bagian dari ekosistem investasi Batam yang saat ini ditopang 31 kawasan industri dan lebih dari 135 galangan kapal. Pemerintah juga terus memperkuat konektivitas, infrastruktur energi, air, pelabuhan dan bandara untuk mendukung kegiatan industri.


Baca Juga: PLN Ungkap Pesanan Listrik Data Center Kini Tembus 1-3 GW per Proyek BP Batam bersama Kementerian Transmigrasi menyiapkan ruang hidup dan aktivitas ekonomi sesuai potensi masyarakat, termasuk pertanian di lingkungan rumah dan aktivitas nelayan. Fasilitas dasar seperti sekolah, tempat ibadah, dan dermaga juga terus dilengkapi seiring penataan kawasan. “Relatif sekarang sudah sangat smooth. Bukan berarti sudah selesai semua, tapi satu per satu kita makin manusiawikan ruang hidupnya, termasuk untuk sekolah, tempat ibadah, kemudian ada dermaga,” kata Irfan. Kementerian Transmigrasi sebelumnya menyebut Barelang sebagai salah satu contoh penerapan konsep “Transmigrasi Baru”, dengan keberhasilan yang diukur dari kemampuan kawasan tumbuh menjadi pusat ekonomi baru, bukan sekadar jumlah masyarakat yang ditempatkan. Dengan prospek data center yang semakin besar di Batam, kesiapan listrik, air, konektivitas, lahan, perizinan, dan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam menangkap peluang investasi di Barelang. Namun, hingga kini belum ada nilai investasi maupun target penyerapan tenaga kerja yang secara khusus ditetapkan untuk kawasan tersebut.

Baca Juga: IDPRO: Kapasitas Data Center Indonesia Berpotensi Tembus 11 GW pada 2030

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: