Kebakaran Kilang Minyak Australia Perburuk Krisis BBM di Tengah Konflik Iran



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kebakaran yang terjadi di salah satu dari dua kilang minyak terbesar Australia mengganggu produksi bahan bakar, di tengah meningkatnya tekanan terhadap keamanan energi negara tersebut akibat perang Iran yang mengganggu pasokan global.

Kilang berkapasitas 120.000 barel per hari yang dioperasikan oleh Viva Energy mengalami kebakaran pada Rabu malam waktu setempat. Otoritas pemadam kebakaran negara bagian menyatakan api berhasil dikendalikan pada Kamis siang.

Insiden ini terjadi di saat yang sensitif bagi Australia, karena negara tersebut masih bergantung pada impor untuk memenuhi sekitar 80% kebutuhan bahan bakarnya. Gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran juga telah mendorong kenaikan harga energi global.


Menteri Energi Australia, Chris Bowen, menyebut insiden ini bukan perkembangan yang positif dan masih terlalu dini untuk mengetahui dampak keseluruhannya terhadap pasokan energi nasional.

Baca Juga: Iran Hentikan Ekspor Petrokimia Setelah Serangan Israel Ganggu Produksi

Kilang milik Viva Energy tersebut memasok lebih dari separuh kebutuhan bahan bakar di negara bagian Victoria, wilayah dengan populasi terbesar kedua di Australia, serta memenuhi sekitar 10% total permintaan bahan bakar nasional.

Perusahaan menyatakan bahwa produksi bensin dan avtur diperkirakan terdampak, namun kebutuhan pasar akan tetap dipenuhi melalui impor. Sementara itu, produksi bahan bakar jet dan diesel masih berlangsung, meskipun pada tingkat yang lebih rendah demi alasan keselamatan.

Analis dari Australian Strategic Policy Institute, John Coyne, mengatakan kebakaran ini kemungkinan akan memicu kenaikan harga bahan bakar, tergantung pada tingkat kerusakan yang dialami fasilitas tersebut.

Pemerintah Australia Cari Pasokan Tambahan

Insiden ini terjadi bersamaan dengan kunjungan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese ke Kuala Lumpur untuk membahas pengamanan pasokan bahan bakar dengan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Sebelumnya, Albanese juga melakukan kunjungan serupa ke Singapura dan Brunei untuk mencari alternatif pasokan energi.

Malaysia dan Brunei yang merupakan produsen minyak mentah dan produk olahan dipandang mampu meningkatkan pasokan, meskipun dalam kapasitas terbatas.

Tidak ada korban luka yang dilaporkan akibat kebakaran di kilang yang berada sekitar satu jam perjalanan dari Melbourne tersebut. Hingga kini, penyebab kebakaran dan tingkat kerusakan masih belum diketahui secara pasti.

Harga BBM Diperkirakan Naik

Dalam hampir tujuh pekan sejak perang dimulai, kekhawatiran terhadap pasokan telah memicu aksi panic buying, yang menyebabkan permintaan bahan bakar di beberapa wilayah meningkat dua kali lipat.

Pada bulan lalu, pemerintah Australia mengumumkan sejumlah langkah sementara untuk membantu masyarakat menghadapi lonjakan biaya energi. Kebijakan tersebut mencakup pemangkasan sementara pajak bahan bakar serta penghentian sementara pungutan jalan bagi kendaraan berat selama tiga bulan.

Baca Juga: Harga Minyak Naik, Pasar Ragukan Perundingan Damai AS-Iran Bisa Akhiri Konflik

Direktur perubahan iklim dan energi di Australian Industry Group, Tennant Reed, memperingatkan bahwa beberapa bulan ke depan akan menjadi periode yang mahal dan penuh tantangan bagi konsumen.

Pada Maret lalu, pemerintah juga berkomitmen menjamin sebagian pembelian bahan bakar oleh kilang dan pemasok guna menjaga pasokan nasional.

Albanese menegaskan pemerintah akan terus bekerja sama dengan Viva Energy untuk memastikan seluruh fasilitas yang berhenti beroperasi dapat kembali berjalan sesegera mungkin.

Sementara itu, CEO Viva Energy, Scott Wyatt, mengatakan fokus utama perusahaan saat ini adalah memadamkan api sepenuhnya sebelum menilai tingkat kerusakan dan memulihkan produksi secara aman.

Menurut Wyatt, unit lain di kilang masih beroperasi, namun pada tingkat minimum demi menjaga keselamatan. Produksi baru akan ditingkatkan kembali setelah perusahaan yakin kondisi benar-benar aman.