KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Pemerintah untuk mulai mengimplementasikan kebijakan B50 atau campuran 50% minyak sawit pada bahan bakar minyak (BBM) per 1 Juli mendatang mendapat sorotan dari kalangan ekonom. Meski dinilai mampu menekan impor, kebijakan ini membawa sejumlah konsekuensi ekonomi dan lingkungan. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, B50 memang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak impor. Namun, ia mengingatkan adanya risiko ekspansi lahan sawit yang masif di masa depan. Baca Juga: Anggaran Jasa EO Capai Rp 113 Miliar, Kepala BGN: Sesuai Kebutuhan
Kebijakan B50 Berpotensi Meningkatkan Harga CPO dan Risiko Lahan
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana Pemerintah untuk mulai mengimplementasikan kebijakan B50 atau campuran 50% minyak sawit pada bahan bakar minyak (BBM) per 1 Juli mendatang mendapat sorotan dari kalangan ekonom. Meski dinilai mampu menekan impor, kebijakan ini membawa sejumlah konsekuensi ekonomi dan lingkungan. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai, B50 memang berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap minyak impor. Namun, ia mengingatkan adanya risiko ekspansi lahan sawit yang masif di masa depan. Baca Juga: Anggaran Jasa EO Capai Rp 113 Miliar, Kepala BGN: Sesuai Kebutuhan