Kebijakan Beras Diuji: Harga Gagal Turun, El Nino Siap Menerjang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Klaim surplus produksi beras nasional belum berbuah penurunan harga di tingkat konsumen. Di tengah produksi yang melonjak dan stok beras Perum Bulog yang disebut tertinggi dalam 25 tahun terakhir, harga beras di pasar justru masih bertahan di kisaran Rp 15.800 per kilogram.

Data Kementerian Perdagangan mencatat harga beras rata-rata nasional mencapai Rp 15.850 per kilogram, sementara Panel Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan harga di level Rp 15.806 per kilogram. Kondisi ini memunculkan tanda tanya atas efektivitas kebijakan stabilisasi beras pemerintah.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Pangan, produksi beras hingga Desember 2025 mencapai 34,77 juta ton atau melonjak 13,54% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan produksi ini ditopang kondisi iklim La Nina yang berlangsung sepanjang 2025.


Baca Juga: Kejar Target 1,5 Juta Ton, Bulog Usulkan Pembelian Beras SPHP Bisa Lebih dari 2 Pack

Research Associate Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia sekaligus Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menilai situasi tersebut sebagai anomali pasar. Secara teori, peningkatan pasokan seharusnya menekan harga, bukan sebaliknya.

“Kalau produksi naik dan stok melimpah, harga semestinya turun. Namun, faktanya harga beras masih tinggi,” tutur Andreas dalam acara CORE Outlook Sektoral bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi” di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Tekanan kebijakan beras diperkirakan belum akan mereda. Andreas memprediksi produksi beras pada 2026 berpotensi turun hingga 5% seiring peralihan fenomena iklim El Nino yang diproyeksikan terjadi mulai Juli 2026 hingga Juli 2027.

Baca Juga: Harga Sejumlah Komoditas Pangan Turun, Bapanas Catat Cabai hingga Beras Turun Harga

“Indonesia akan masuk El Nino cukup panjang. Kalau itu terjadi, produksi beras hampir pasti turun,” katanya.

Pemerintah mengakui perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan nasional. Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Harmono, menyebut Indonesia sangat rentan terhadap dampak geohidrometeorologi.

Ia mencontohkan bencana banjir bandang di tiga provinsi Sumatra yang berdampak pada sekitar 102 ribu hektare lahan pertanian. Dampak tersebut dinilai berpotensi mengganggu produksi sekaligus memperumit upaya stabilisasi harga.

Dengan harga beras yang gagal turun di tengah klaim surplus, ancaman penurunan produksi akibat El Nino menjadi ujian berikutnya bagi kebijakan beras pemerintah. Tanpa perbaikan distribusi dan intervensi yang lebih efektif, tekanan harga berisiko berlanjut memasuki 2026.

Baca Juga: Surplus 3,87 Juta Ton, Harga Beras Masih Tertahan

Selanjutnya: Kementerian ESDM: Kenaikan Harga Komoditas Dorong Pencapaian Target PNBP Minerba 2026

Menarik Dibaca: Pastikan Kanal Pemesanan Tiket Lebaran Stabil, KAI Lakukan Migrasi Sistem Besok

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: