KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga menilai pengetatan kebijakan moneter masih diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut David, tren kenaikan suku bunga dan imbal hasil surat utang saat ini terjadi secara global. Karena itu, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% merupakan langkah yang wajar, bahkan masih menyisakan ruang untuk kenaikan lanjutan. "Saya pikir memang sekarang tren globalnya juga meningkat semua. US Treasury juga naik. Jadi sebenarnya wajar kalau kita juga naik ke depan. Dan saya pikir masih ada ruang untuk meningkatkan lagi," ujar David kepada Kontan, Selasa (9/6/2026). David menilai keputusan BI menggelar RDG mingguan dan menaikkan suku bunga di luar jadwal RDG bulanan menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan keuangan kini menjadi prioritas utama bank sentral. Baca Juga: Perry Warjiyo Ungkap Alasan BI Kerek BI Rate Jadi 5,50% "Memang diperlukan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Prioritas sekarang stabilitas dulu," katanya. Menurut David, kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas membuat risiko inflasi global meningkat. Kenaikan harga minyak dan komoditas berpotensi mendorong inflasi sehingga ruang kenaikan suku bunga masih terbuka. "Masih ada ruang untuk peningkatan ke depan. Karena ekspektasi inflasinya meningkat dengan harga minyak dan kondisi geopolitik. Ini kan semua barang harganya naik," ujarnya. Selain menaikkan BI Rate, BI juga mengumumkan lima langkah penguatan moneter, antara lain menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memangkas biaya swap lindung nilai (hedging swap), membuka kembali fasilitas repo, meningkatkan frekuensi lelang SRBI, dan memperkuat intervensi pasar valuta asing. David menilai berbagai instrumen tersebut diperlukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global. Ia mencontohkan, sejumlah negara berkembang seperti Meksiko, India, dan Filipina masih menawarkan tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
Kebijakan BI Sudah Tepat Jaga Rupiah, BI Rate Masih Berpeluang Naik Lagi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga menilai pengetatan kebijakan moneter masih diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Menurut David, tren kenaikan suku bunga dan imbal hasil surat utang saat ini terjadi secara global. Karena itu, kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% merupakan langkah yang wajar, bahkan masih menyisakan ruang untuk kenaikan lanjutan. "Saya pikir memang sekarang tren globalnya juga meningkat semua. US Treasury juga naik. Jadi sebenarnya wajar kalau kita juga naik ke depan. Dan saya pikir masih ada ruang untuk meningkatkan lagi," ujar David kepada Kontan, Selasa (9/6/2026). David menilai keputusan BI menggelar RDG mingguan dan menaikkan suku bunga di luar jadwal RDG bulanan menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dan keuangan kini menjadi prioritas utama bank sentral. Baca Juga: Perry Warjiyo Ungkap Alasan BI Kerek BI Rate Jadi 5,50% "Memang diperlukan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas. Prioritas sekarang stabilitas dulu," katanya. Menurut David, kondisi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas membuat risiko inflasi global meningkat. Kenaikan harga minyak dan komoditas berpotensi mendorong inflasi sehingga ruang kenaikan suku bunga masih terbuka. "Masih ada ruang untuk peningkatan ke depan. Karena ekspektasi inflasinya meningkat dengan harga minyak dan kondisi geopolitik. Ini kan semua barang harganya naik," ujarnya. Selain menaikkan BI Rate, BI juga mengumumkan lima langkah penguatan moneter, antara lain menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memangkas biaya swap lindung nilai (hedging swap), membuka kembali fasilitas repo, meningkatkan frekuensi lelang SRBI, dan memperkuat intervensi pasar valuta asing. David menilai berbagai instrumen tersebut diperlukan untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di mata investor global. Ia mencontohkan, sejumlah negara berkembang seperti Meksiko, India, dan Filipina masih menawarkan tingkat suku bunga dan imbal hasil obligasi yang relatif lebih tinggi dibandingkan Indonesia.
TAG: