Kebijakan KLM BI Sukses Turunkan Bunga, Kendati Masih Turun Perlahan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mengklaim kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) efektif menurunkan suku bunga kredit. Penurunan suku bunga kredit terutama terjadi di sektor prioritas.

Berdasarkan Asesmen Transmisi SBDK RDG Maret 2026 yang dipublikasikan BI pekan lalu, kebijakan KLM berbasis kinerja dan orientasi ke depan (KLM forward looking) telah menurunkan suku bunga kredit di mayoritas sektor prioritas.

BI mencatat, berdasarkan kelompok sektor prioritas KLM, sektor jasa, termasuk ekonomi kreatif, mengalami penurunan suku bunga sebesar 3 basis poin (bps) menjadi 7,80%. Penurunan ini didukung oleh penurunan suku bunga kredit pada sektor jasa dunia usaha dan jasa sosial.


Baca Juga: Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, BI Tahan BI-Rate

Sementara itu, sektor konstruksi, real estate, dan perumahan turut mengalami penurunan suku bunga sebesar 2 bps menjadi 6,87%. Penurunan ini ditopang oleh penurunan pada sektor pendukung, antara lain jasa dunia usaha dan jasa lainnya.

Hanya sektor pertanian, industri pengolahan, dan hilirisasi yang tercatat mengalami kenaikan suku bunga, kendati tipis. Suku bunga di sektor ini naik dari 8,66% menjadi 8,67%, dipengaruhi kenaikan pada sektor pendukung listrik, gas, dan air (LGA).

Sementara suku bunga di sektor bukan KLM tercatat masih dua digit. Per Februari, besaran suku bunga di sektor non KLM masih sebesar 10,69%, tidak berubah dibanding bulan sebelumnya.

Baca Juga: BI-Rate Sudah Turun 125 bps, BI Akui Penurunan Suku Bunga Kredit Masih Lambat

Suku bunga kredit di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga tercatat turun dari 10,57% di Januari 2026 menjadi 10,55% di Februari 2026. Sementara suku bunga kredit segmen industri stabil di 8,8% di periode yang sama.

Perkembangan suku bunga kredit pada sektor prioritas KLM terjadi di tengah kenaikan pada rasio kredit bermasalah alias non performing loan (NPL). Kendati begitu, secara rata-rata, NPL masih jauh di bawah batas bahaya 5%,kecuali NPL segmen UMKM.

NPL segmen UMKM tercatat di level 4,68% di Februari 2026, naik dari 4,60% sebulan sebelumnya. NPL sektor transportasi, pariwisata, ekonomi kreatif tercatat naik tipis dari 1,65% jadi 1,66%.

Baca Juga: Transmisi Suku Bunga Menguat, Kredit Belum Sepenuhnya Tersalur

BI juga menyebut, KLM mendukung penguatan likuiditas dan penurunan biaya dana alias cost of fund (CoF) bagi bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas KLM. Kendati begitu, penurunan CoF di perbankan masih berjalan lambat, dan belum sebanding dengan skala penurunan BI rate.

Jika dirinci, CoF tertinggi Bank Usaha Milik Negara (BUMN) susut 0,4% dari Juni ke level 3,16% pada Desember 2025, bank swasta turun 0,18% menjadi 3,40%, Bank Pembangunan Daerah (BPD) turun 0,08% ke level 4,40%, dan Kantor Bank Asing turun 0,33% jadi 1,64%

Bank Tabungan Negara (BTN) salah satu yang sudah berhasil menurunkan biaya dana, terutama setelah mendapat penempatan dana SAL pemerintah sebesar Rp 25 triliun. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyebut, CoF BTN terus tercatat turun sejak pertengahan 2025.

Baca Juga: OJK Catat Kinerja Premi Asuransi Marine Cargo Tertekan pada Awal Tahun Ini

Untuk tahun ini, BTN tak merinci target rasio biaya dana. "Kami optimistis dapat menjaga CoF tetap stabil sampai akhir tahun," ujar Nixon, belum lama ini.

BTN hanya memasang target pertumbuhan DPK di kisaran 7%-9%. Melansir materi analyst meeting BTN kuartal IV-2025, CoF bank ini pada 2025 ada di level 2,9%, turun dari 4,1% pada 2024.

Bank Mandiri juga sudah mencatatkan penurunan biaya dana pada kuartal IV-2025 menjadi sebesar 2,15%. Pada kuartal sebelumnya biaya dana bank ini sebesar 2,31%.

Pada periode yang sama, Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencatat penurunan CoF dari 2,9% menjadi 2,5%. Sedangkan Bank CIMB Niaga mencatat penurunan biaya dana dari sebesar 3,58% pada tahun 2024 menjadi tinggal 3,28% pada 2025.

Baca Juga: Bank Tetap Royal Berbagi Dividen Jumbo di Tengah Perlambatan Kinerja, OJK: Kami Awasi

EVP Corporate Communication Bank Central Asia (BCA) Hera F. Haryn mengatakan, BCA akan mengupayakan CoF tahun ini sejalan dengan porsi dana murah alias CASA perseroan ini yang terus bertumbuh.

"Per Desember 2025, CASA tumbuh 13,1% secara tahunan mencapai Rp 1.045 triliun, sekitar 84,6% dari total DPK. CASA masih menjadi kontributor utama pendanaan BCA," terang Hera.

Direktur OK Bank Indonesia Efdinal Alamsyah mengatakan, penurunan CoF bank ini tak sebesar penurunan BI rate karena masih dipengaruhi struktur DPK dan likuiditas. Tapi, bank ini optimistis CoF dapat ditekan pada 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News