KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sektor perbankan menghadapi tahun yang sulit pada tahun 2025 karena sejumlah faktor seperti likuiditas hingga pertumbuhan kredit. Kebijakan makroekonomi menjadi katalis yang mempengaruhi lanskap perbankan di tahun 2026. James Stanley Widjadja, Analis Henan Putihrai Sekuritas mengatakan bahwa tahun 2025 merupakan tahun yang sulit bagi sektor perbankan Indonesia. Hingga saat ini, sektor perbankan merupakan salah satu sektor yang tertinggal dibandingkan dengan indeks imbal hasil sebesar 20,2% per November 2025. “Likuiditas ketat di awal tahun, memaksa bank untuk menawarkan suku bunga deposito yang lebih tinggi untuk menjaga cadangan likuiditas dan menahan pertumbuhan pinjaman,” ujar James dalam risetnya pada 5 Januari 2026.
Selain itu, James bilang, daya beli yang lemah menyebabkan penurunan kualitas aset di segmen usaha kecil dan menengah (UKM) dan segmen konsumen. Secara keseluruhan, pertumbuhan pinjaman yang lemah, kompresi Net Interest Margin (NIM), dan biaya penyisihan yang lebih tinggi menyebabkan kompresi laba per saham atau
earnings per Share (EPS) untuk sektor perbankan.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Terkoreksi Terbatas pada Senin (19/1), Simak Proyeksi sahamnya Menurut James, kinerja buruk harga saham sektor perbankan tidak dapat dipisahkan dari arus keluar dana asing yang diakibatkan oleh kekhawatiran terhadap kondisi makroekonomi domestik yang lemah dan ketidakpastian kebijakan setelah transisi ke pemerintahan Prabowo. “Namun, kami percaya kuartal III – 2025 akan menjadi titik balik bagi sektor perbankan,” kata James. James melihat bahwa data Oktober 2025 dan November 2025 menyoroti membaiknya kondisi likuiditas untuk bank-bank besar. Ia percaya bahwa ini akan memicu pemulihan laba per saham (EPS) dalam beberapa kuartal mendatang, meskipun masih ada beberapa tantangan terkait imbal hasil aset dan kualitas aset. Head of Research OCBC Sekuritas, Budi Rustanto mencatat berdasarkan laporan keuangan bulanan, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan pertumbuhan laba bersih tahunan terbesar pada sepuluh bulan tahun 2025 sebesar 4,4%. Sementara bank-bank besar lainnya mengalami kontraksi. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) terkontraksi 10,2%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkontraksi 9,7%, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) terkontraksi 6,3%. Dari segi pertumbuhan kredit tahunan, BMRI memimpin dengan 11,1%, diikuti oleh BBNI (9,6%), BBCA (7,6%), dan BBRI (5,1%). “Kami memperkirakan pertumbuhan kredit akan mencapai sekitar 8% pada akhir tahun 2025 dan 8% - 12% tahun depan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang membaik menyusul kebijakan fiskal ekspansif dan pelonggaran moneter yang agresif,” ujar Budi kepada Kontan, Kamis (15/1/2026). Budi mengatakan bahwa Bank Indonesia, berkoordinasi dengan pemerintah, akan terus memperkuat sinergi kebijakan untuk mempercepat pertumbuhan kredit dan mendukung ekspansi ekonomi yang berkelanjutan. “Kami memperkirakan segmen korporasi dan konsumen akan tetap solid, sementara segmen mikro kemungkinan akan pulih pada tahun 2027,” ucap Budi. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan memproyeksikan kinerja perbankan di awal tahun 2026 relatif stabil dengan kecenderungan membaik. Hal ini ditopang oleh pertumbuhan kredit yang masih positif, likuiditas yang terjaga, serta potensi penurunan suku bunga lanjutan yang mendukung permintaan kredit. David melihat tantangan utama datang dari tekanan margin (NIM) akibat penyesuaian suku bunga, potensi kenaikan biaya dana, serta kualitas aset yang perlu dijaga di tengah pemulihan ekonomi yang belum sepenuhnya merata. “Sentimen kunci meliputi arah kebijakan suku bunga BI, stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit (
loan growth), serta tren
Non Performing Loan (NPL) dan
cost of credit. Selain itu, aliran dana asing juga memengaruhi pergerakan saham bank besar,” terang David kepada Kontan, Kamis (15/1/2026). Victor Stefano, Analis BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih sektor perbankan sebesar Rp 205,5 triliun, naik 5,1% yoy pada tahun 2026. Asumsi ini berbeda dengan konsensus sebesar Rp 215,9 triliun, naik 9,2% yoy. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa konsensus memperhitungkan pemulihan yang lebih cepat dengan ekspansi margin yang lebih besar daripada perkiraan BRI Danareksa Sekuritas. Hal ini menyiratkan risiko pendapatan yang lebih tinggi jika biaya pendanaan menurun lebih cepat, tetapi juga menggarisbawahi risiko penurunan jika pemotongan suku bunga atau normalisasi kredit tidak sesuai harapan. “Secara umum, kami memperkirakan pertumbuhan pinjaman yang lebih tinggi, margin bunga bersih (NIM) yang lebih rendah, biaya operasional (opex) yang lebih rendah, dan biaya kredit yang beragam pada tahun fiskal 2026,” ujar Victor dalam risetnya pada 13 Januari 2026. James memberi peringkat netral untuk sektor perbankan. Meskipun valuasi sektor perbankan saat ini menjadi murah, Dia menilai pentingnya untuk selektif, memilih bank dengan karakteristik berkualitas. James merekomendasikan Buy saham BBCA, BBNI, dan PT Bank Jago Tbk (ARTO), dengan target harga masing – masing Rp 10.000 per saham, Rp 5.000 per saham, dan Rp 2.500 per saham. Budi merekomendasikan Buy saham BBCA, BBRI, dan BMRI dengan target harga masing – masing Rp 11.000 per saham, Rp 5.000 per saham, dan Rp 5.500 per saham. David merekomendasikan Buy saham BBCA dengan target harga kisaran Rp 10.000 per saham dan Buy saham BMRI dengan target harga kisaran Rp 5.600 per saham. Victor merekomendasikan Buy saham BBCA dan Bank BTPN Syariah (BTPS) dengan target harga masing - masing Rp 10.800 per saham dan Rp 1.600 per saham.
Baca Juga: Menanti Data Inflasi AS dan BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi Senin (19/1) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News