Kebijakan Restrukturisasi Covid-19 Berakhir, KBMI IV Pastikan Rasio LAR & NPL Terjaga



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Seiring dengan berakhirnya kebijakan restrukturisasi Covid-19 pada Maret 2024, big bank memastikan rasio loan at risk (LAR) dan non performing loan (NPL) coverage bank di jajaran Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) IV diproyeksikan terjaga dengan baik.

Salah satunya adalah  PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Dimana manajemen BCA memastikan portofolio kredit restrukturisasi BCA terus mencatatkan penurunan, seiring dengan pemulihan bisnis debitur. Dari total jumlah restrukturisasi kredit saat ini, didominasi oleh kategori lancar (Kolektibilitas 1). 

EVP Corporate Communication BCA Hera F Haryn mengatakan, LAR BCA secara konsisten mencatatkan penurunan hingga menyentuh single digit sebesar 6,9%, dibandingkan dengan 10,4% pada tahun 2022. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) BCA terjaga di angka 1,9% pada tahun 2023.


Baca Juga: LAR Turun Jadi 13,8%, BRI Siap Restrukturisasi Covid Segera Berakhir

Biaya provisi tercatat Rp 2,3 triliun di 2023, atau turun sebesar Rp 2,2 triliun dari tahun sebelumnya, seiring dengan perbaikan kualitas pinjaman.

Meskipun tren kualitas kredit BCA membaik, BCA tetap memiliki cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang memadai. NPL coverage BCA sebesar 234,1% dan LAR coverage sebesar 69,7% pada tahun 2023, salah satu yang paling tinggi di industri perbankan. 

"Biaya pencadangan akan senantiasa kami review sejalan dengan perkembangan kualitas aset dan kondisi ekonomi," kata Hera dalam keterangannya, Senin (1/4).

Ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang positif dan likuiditas yang solid, BCA tetap optimistis dalam penyaluran kredit dengan mempertimbangkan prinsip kehati-hatian, sehingga kualitas pinjaman tetap terjaga. 

Baca Juga: Restrukturisasi Covid-19 Berakhir, Ini Efeknya ke NPL Perbankan

Senada, big bank pelat merah seperti PT Bank Mandiri Tbk juga mencatatkan LAR yang sudah lebih rendah dibanding masa pandemi. Hal ini disampaikan Corporate Secretary Bank Mandiri Ali Usman, ia menyebut ini menjadi indikator utama bahwa kita sudah siap tumbuh melampaui posisi sebelum Covid-19.

Editor: Noverius Laoli