Kebun Sawit Tua Malaysia Diproyeksi Tembus 2 Juta Ha di 2027, Produksi Tertekan



KONTAN.CO.ID - KUALA LUMPUR. Luas kebun kelapa sawit tua di Malaysia diperkirakan meningkat hingga 2 juta hektare pada 2027, dari sekitar 1,7 juta hektare saat ini. Kondisi ini berpotensi menekan produksi Malaysia sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua dunia.

Ketua Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Datuk Carl Bek-Nielsen mengatakan sekitar 35% kebun sawit Malaysia akan berusia 19 tahun atau lebih pada 2027, naik dari sekitar 30% pada 2026. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi industri di Kuala Lumpur, Senin (10/2/2026).

Selain faktor usia tanaman, sekitar 800.000 hektare kebun sawit di Malaysia juga dilaporkan terinfeksi penyakit jamur ganoderma. Bek-Nielsen menilai hal tersebut turut menahan kinerja produksi.


Baca Juga: Banjir Sumatra 2025? Ini Data Lengkap Luas Kebun Sawit Resmi BPS

“Produktivitas kami sudah mencapai titik datar, bahkan di beberapa area mengalami penurunan. Industri sawit harus bekerja lebih keras untuk meningkatkan hasil per hektare,” ujarnya.

Menurut dia, penggunaan benih unggul berproduktivitas tinggi berpeluang mendongkrak rata-rata hasil menjadi 4,5 ton minyak sawit mentah (CPO) per hektare, dari sekitar 3,5 ton saat ini. Dengan upaya tersebut, total produksi Malaysia ditargetkan bisa mencapai 26 juta ton pada 2035.

Sebagai catatan, produksi CPO Malaysia pada 2025 tercatat 20,3 juta ton, berdasarkan data Malaysian Palm Oil Board.

Pemerintah Malaysia juga mulai mendorong peningkatan produktivitas melalui teknologi. Menteri Perkebunan dan Komoditas Noraini Ahmad sebelumnya menyampaikan pemerintah mengalokasikan dana RM20 juta pada 2026 untuk mendukung otomasi dan mekanisasi di sektor perkebunan sawit.

Dari sisi eksternal, Bek-Nielsen menilai pasokan dari Indonesia berpotensi terganggu dalam enam hingga delapan bulan ke depan akibat penertiban lahan.

Baca Juga: Begini Dampak Banjir dan Longsor di Sumatra Terhadap Kebun Sawit LSIP dan ANJT

Pada 2025, satuan tugas kehutanan Indonesia menyita sekitar 4,1 juta hektare kebun yang dinilai beroperasi ilegal di kawasan hutan, termasuk milik perusahaan besar dan petani kecil. Operasi penegakan hukum itu direncanakan berlanjut pada 2026 dengan target tambahan penyitaan 4–5 juta hektare.

Ia juga menilai penundaan penerapan program biodiesel B50 di Indonesia berpotensi memberi tekanan ke pasar.

Pemerintah Indonesia pada Januari lalu membatalkan rencana penerapan B50 pada 2026 dengan alasan kendala teknis dan pendanaan, serta tetap melanjutkan kebijakan B40.

Baca Juga: Kopdes Merah Putih Buka Peluang Kelola Kebun Sawit Hasil Sitaan Negara

Untuk harga, Bek-Nielsen memperkirakan CPO akan bergerak di kisaran RM3.900–RM4.000 per ton pada 2026. Sebagai perbandingan, rata-rata harga penutupan CPO sepanjang 2025 berada di level RM4.233 per ton.

Selanjutnya: Prabowo Temui Prajogo Pangestu hingga Anthony Salim ke Hambalang, Apa Isinya?

Menarik Dibaca: Promo Bakmi GM x DBS: Rayakan Anniversary ke-67, Makan Berdua Cuma Rp 67.000