Kebutuhan batubara PLN tahun 2019 diperkirakan naik 5% dari realisasi tahun lalu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kebutuhan batubara untuk kelistrikan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) mengalami peningkatan. Sepanjang tahun 2019, kebutuhan batubara PLN diperkikaran sebesar 96 juta ton, atau naik 5% dari realisasi tahun lalu.

Menurut Kepala Divisi Batubara PLN Harlen, serapan batubara PLN pada tahun lalu ada di angka 91,1 juta ton atau lebih rendah dari target yang dipatok sebesar 92 juta ton. 

Serapan batubara ini menyesuaikan dengan konsumsi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), sehingga dengan adanya proyeksi penambahan PLTU baru dari proyek 35.000 megawatt (MW) pada tahun ini, maka kebutuhan batubara pun mengalami peningkatan.


Harlen tidak menerangkan detail porsi penambahan dari PLTU tersebut. Hanya saja, ia memberikan gambaran, sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, rencana pasokan batubara akan ada di angka 23.6 juta ton. "Jadi kebutuhannya sekitar 7,5 juta ton-8 juta ton per bulan," kata Harlen kepada Kontan.co.id, Rabu (16/1).

Penambahan kebutuhan batubara untuk kelistrikan PLN pun memang sudah diantisipasi pemerintah. Meski belum menetapkan secara final, namun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah memproyeksikan adanya penambahan pasokan batubara dalam negeri atau Domestic Market Obligation (DMO).

Dalam perkiraan sementara, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan, target produksi batubara sepanjang tahun 2019 diproyeksikan sebanyak 479,83 juta ton.

Dari jumlah rencana produksi tersebut, DMO pada tahun 2019 direncanakan bisa menyentuh angka 128,08 juta ton atau 26,68% dari target produksi. Menurut Bambang, rencana DMO pada tahun ini memperhitungkan kebutuhan dalam negeri yang diperkirakan akan mengalami peningkatan lewat PLTU baru dari proyek listrik 35.000 Megawatt dan peningkatan konsumsi dari industri.

DMO tahun 2019 diprediksi akan terserap oleh PLTU sebanyak 95,73 juta ton, metalurgi sebesar 5,4 juta ton, pupuk sebesar 1,49 juta ton, semen sebanyak 16,15 juta ton, tekstil 3 juta ton, kertas 6,2 juta ton dan briket 14.500 ton.

Namun, Bambang mengatakan bahwa angka pasti dari target produksi dan DMO tahun ini masih menunggu pengesahan RKAB. "Belum (dipastikan), karena RKAB kan belum, ini sementara, RKAB belum ditetapkan," kata dihadapan Komisi VII DPR RI, pekan lalu.

Tahun 2018 lalu,realisasi DMO sebesar 115,09 juta ton. Rinciannya, sebesar 91,14 juta ton diserap untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), sebanyak 1,75 juta ton untuk industri metalurgi, sebesar 22,18 juta ton untuk industri pupuk, semen, tekstik dan kertas, serta 0,01 juta ton digunakan untuk briket. "Jadi untuk kelistrikan prognosa sampai Desember 91,14 juta ton, industri lain 23,95 juta ton," kata Bambang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .