Kebutuhan Fisioterapis Melonjak, Indonesia Masih Butuh 26.000 Tenaga Baru



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek industri fisioterapi di Indonesia kian menjanjikan. Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan rehabilitasi dan pemulihan fungsi gerak, sektor ini masih menghadapi kekurangan sekitar 26.000 tenaga fisioterapis.

Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi perguruan tinggi, fasilitas kesehatan, hingga pelaku teknologi kesehatan untuk memperluas layanan dan menyiapkan sumber daya manusia yang dibutuhkan pasar.

Ketua Umum Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) Parmono Dwi Putro mengatakan kebutuhan fisioterapis terus meningkat seiring kebijakan yang mewajibkan setiap Puskesmas memiliki minimal satu fisioterapis.


Baca Juga: 5 HP Premium Rilisan di Bulan Mei 2026, Ada yang Sudah Meluncur di Indonesia

“Keberadaan fisioterapis di Puskesmas sangat krusial karena layanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pencegahan dan pemulihan fungsi,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (26/6/2026).

Event Director TITAFI XXXVIII dan KONAS IFI 2026 Yohanes Deo menjelaskan, kebutuhan tambahan 26.000 fisioterapis mengacu pada data yang dipaparkan BPJS Kesehatan.

Dengan jumlah lebih dari 12.000 Puskesmas di Indonesia, kebutuhan tenaga fisioterapi diperkirakan akan terus meningkat.

IFI memperkirakan pemenuhan kekurangan tersebut membutuhkan waktu 10–15 tahun. Karena itu, organisasi profesi mendorong perguruan tinggi untuk memperbanyak lulusan fisioterapi yang kompeten dan siap memasuki dunia kerja.

Di sisi lain, pertumbuhan kebutuhan tenaga fisioterapi juga akan mendorong ekspansi layanan di rumah sakit, klinik rehabilitasi, hingga fasilitas kesehatan primer.

Baca Juga: Di Sekolah Indonesia Jeddah, Anak Perantauan Belajar Mengenal Tanah Air

Seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kualitas hidup, permintaan layanan fisioterapi berbasis bukti ilmiah (evidence-based) diperkirakan terus bertumbuh.

IFI juga mendorong transformasi praktik fisioterapi melalui pemanfaatan teknologi dan metode penanganan modern.

Upaya tersebut menjadi fokus dalam Temu Ilmiah Tahunan Fisioterapi Indonesia (TITAFI) XXXVIII yang diikuti sekitar 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Ke depan, IFI berencana meningkatkan standar kompetensi fisioterapis agar mampu bersaing di tingkat ASEAN hingga global, sekaligus memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan BPJS Kesehatan untuk memperluas akses layanan fisioterapi bagi masyarakat.

Besarnya kebutuhan tenaga kerja dan masih lebarnya kesenjangan pasokan menjadikan fisioterapi sebagai salah satu sektor kesehatan dengan prospek pertumbuhan yang menarik dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News