Kebutuhan Impor Tinggi, Surplus Neraca Dagang September 2026 Diproyeksi Menyusut



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surplus neraca perdagangan diperkriakan menyempit pada September 2026, bila dibandingkan bulan sebelumnya. Meski masih ditopang oleh kinerja ekspor yang relatif kuat, peningkatan impor diperkirakan menahan surplus perdagangan pada periode tersebut.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memproyeksikan, surplus neraca perdagangan pada September 2026 akan mencapai US$ 1,79 miliar. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi surplus pada Agustus 2026 yang mencapai US$ 3,55 miliar.

Menurut Faisal, kinerja perdagangan Indonesia masih akan ditopang oleh harga komoditas yang relatif stabil. Namun, pertumbuhan impor yang lebih tinggi diperkirakan membuat surplus perdagangan menyempit.


Baca Juga: Kadin Ungkap Peluang Besar Swasta, 85% Ekonomi Indonesia di Luar APBN

"Kami memperkirakan surplus perdagangan sebesar US$ 1,79 miliar pada September 2026, turun dari US$ 3,55 miliar pada Agustus 2026. Surplus ini diperkirakan akan tetap didukung oleh harga komoditas yang relatif stabil," ujar Faisal kepada Kontan, Jumat (30/10/2026).

Faisal memperkirakan, pertumbuhan ekspor Indonesia pada September 2026 mencapai 9,39% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor pada Agustus 2026 yang sebesar 6,72% yoy.

Penguatan ekspor terutama ditopang oleh kenaikan harga komoditas, khususnya batubara, di tengah permintaan yang lebih kuat dari sejumlah mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, India, dan Jepang.

Selain itu, aktivitas manufaktur di sebagian besar negara mitra dagang utama juga menunjukkan perbaikan pada September 2026. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang mengindikasikan permintaan eksternal terhadap produk ekspor Indonesia masih relatif kuat.

Faisal juga mencermati data impor Tiongkok yang menunjukkan peningkatan impor dari Indonesia sebesar 7,49% yoy.

Baca Juga: Kemenhut Tetapkan Dua Perusahaan Tersangka Kasus Karhutla, Ada Investor Singapura

Di sisi lain, pertumbuhan impor Indonesia diperkirakan meningkat lebih tinggi, yakni mencapai 23,07% yoy pada September 2026, dibandingkan 19,09% yoy pada Agustus 2026.

Peningkatan tersebut antara lain dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak global yang berpotensi mendongkrak nilai impor. Selain itu, aktivitas manufaktur domestik mulai menunjukkan ekspansi setelah PMI manufaktur Indonesia kembali berada di atas ambang batas 50 poin pada September 2026.

"Selain itu, ekspor China ke Indonesia dilaporkan meningkat sebesar 27,27% yoy pada September 2026," jelas Faisal.

Lebih lanjut, Faisal menilai prospek neraca perdagangan Indonesia masih menghadapi tekanan hingga akhir 2026 dan memasuki 2027. Hal ini seiring dengan pertumbuhan impor yang diperkirakan tetap kuat, sementara kinerja ekspor berpotensi menghadapi tantangan dari perlambatan ekonomi global, fragmentasi perdagangan, serta ketegangan geopolitik.

Menurutnya, kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan akan menopang permintaan domestik dan mendorong impor. Sementara itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah berisiko meningkatkan harga minyak global sehingga menambah beban impor energi Indonesia.

Di sisi ekspor, perlambatan ekonomi global, khususnya China, dapat membatasi permintaan terhadap produk Indonesia. Fragmentasi perdagangan akibat perang dagang juga berpotensi mengganggu rantai pasok global dan meningkatkan biaya pengiriman maupun asuransi.

Meski demikian, kenaikan harga energi global masih berpotensi memberikan dukungan terhadap nilai ekspor Indonesia, terutama untuk komoditas berbasis energi.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual juga memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatat surplus lebih rendah yakni sebesar US$ 1,53 miliar.

Baca Juga: Mahfud MD Jelaskan Alasan Putusan MA soal Suket Ijazah Gibran Berlaku Surut

David memperkirakan ekspor pada September 2026 tumbuh 9,31% secara tahunan atau year on year (yoy), sementara impor meningkat lebih tinggi sebesar 25,08% yoy.

Selain kenaikan harga komoditas, David melihat ekspor ke China untuk produk crude palm oil (CPO) dan sejumlah produk logam juga menunjukkan peningkatan. Namun, kinerja ekspor tersebut masih dibayangi oleh tingginya pertumbuhan impor.

"Impor di sisi lain diperkirakan tetap tumbuh tinggi seiring harga minyak yang terus naik," kata David.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News