Kebutuhan Interkoneksi Jawa-Bali-Sumatera Mendesak, Pemerintah Siapkan Revisi RUPTL



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai jaringan transmisi listrik yang menyambung Jawa-Bali, dan Sumatera saat ini sudah mendesak.

Untuk mendukung rencana ini, pemerintah sedang menyiapkan revisi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan memasukkan program transmisi antar pulau ini.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Jisman P Hutajulu menyatakan, pembangunan interkoneksi Jawa-Bali, dan Sumatera sebelumnya agak tertunda. Namun melihat kebutuhan saat ini yang mendesak maka jaringan ini harus segera dibangun.


“Kita sedang menyiapkan revisi RUPTL yang harus kita listed program-program itu nanti di sana dan ada lagi program transmisi di tempat lain,” ujar Jisman di Hotel Westin Jakarta, Rabu (2/8).

Baca Juga: Sebagian Proyek Pembangkit EBT RUPTL 2021-2030 Sudah Mulai Beroperasi

Nantinya setelah proyek transmisi ini sudah masuk dalam RUPTL, Kementerian ESDM tentu akan segera mengumumkan kapan proyek ini bisa segera dieksekusi.

Menurutnya, dengan membangun interkoneksi Jawa-Bali, dan Sumatera ini dilakukan untuk meningkatkan keandalan distribusi listrik lebih tinggi lagi.

Perihal sumber pendanaan proyek ini, Jisman belum bisa menjelaskan rinci. Ada beberapa skema yang bisa ditempuh, salah satunya mengajak pihak swasta membangun transmisi menggunakan pola BMT (build, maintenance, and transfer).  

“Pola BMT ini jadi ada yang bangun, dirawat PLN karena sifatnya demikian, transmisi dioperasikan harus PLN, lalu ditransfer ke kontraknya,” terangnya.

Jumlah dana yang dibutuhkan juga perlu ditinjau lebih lanjut sebab harus feasibility study (FS) ulang dengan menggunakan teknologi-teknologi terbaru.

Sebelumnya, Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PLN, Evy Haryadi menyatakan, jaringan interkoneksi Jawa-Bali dan Sumatera diperkirakan beroperasi di 2030 mendatang.

“Dibutuhkan US$ 2,9 miliar termasuk bangun jaringan dari pusat-pusat yang renewable. Biasanya remote jadi kita punya transmisi bakcbone yang mengkoneksikan Jawa Sumatera,” terangnya ditemui di acara EBTKE ConEx di ICE BSD Rabu (12/7).

Berdasarkan perhitungan Kontan, investasi yang harus digelontorkan PLN US$ 2,9 miliar setara dengan Rp 43,5 triliun (kurs Rp 15.000/USD).

Evy yakin, kebutuhan investasi tersebut bisa dipenuhi dari sejumlah sumber pendanaan, misalnya saja dari pinjaman perbankan komersial, lembaga internasional dan lokal, serta bank lokal bisa melakukan sindikasi.

Selain itu, potensi pendanaan hijau sudah semakin banyak dan murah ke depannya. Pihaknya juga sedang menjajaki kerja sama dengan lembaga internasional termasuk skemaJust Energy Transition Partnership (JETP).

Baca Juga: PLN Klaim Telah Kurangi 3,7 Miliar Metrik Ton Emisi CO2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Khomarul Hidayat