Kebutuhan Intervensi Rupiah Masih Besar, Cadangan Devisa Mungkin Susut Lagi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cadangan devisa Indonesia kembali tergerus pada Oktober 2023. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa Indonesia sekitar US$ 133,1 miliar atau turun 1,33% mom. 

Penurunan cadangan devisa tersebut didorong oleh kebutuhan stabilisasi nilai tukar Rupiah, di tengah makin meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. 

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan, kebutuhan intervensi nilai tukar rupiah mungkin masih belum berakhir, mengingat ketidakpastian yang masih tinggi. 


"Kebutuhan intervensi kemungkinan masih cukup besar, karena volatilitas relatif tinggi," terang David kepada Kontan.co.id, Selasa (7/11). 

Baca Juga: Kebutuhan Stabilisasi Rupiah, Cadangan Devisa RI Turun 1,33% Secara Bulanan

Ini didorong oleh ekspektasi suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang masih bisa meningkat dan ketidakpastian geopolitik. 

Dengan kondisi tersebut, David meyakini level cadangan devisa masih akan berpotensi turun lagi pada akhir tahun 2023. 

Dari perhitungannya, cadangan devisa akan berada di kisaran US$ 128 miliar hingga US$ 133 miliar. Pasalnya, Rupiah masih mungkin bergerak di kisaran Rp 15.500 hingag Rp 16.000 per dolar AS. 

Bahkan, ia membuka peluang Rupiah ada kemungkinan tembus di atas Rp 16.000 per dolar AS bila ketidakpastian berlanjut. 

Baca Juga: Cadangan Devisa dalam Tren Menyusut, Begini Respons Bos BI

Meski demikian, posisi cadangan devisa masih kuat karena tetap akan berada di atas standard kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor. 

Karena dari perhitungan David, posisi cadangan devisa akhir tahun mungkin masih di atas kebutuhan 5 bulan impor. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli