Kebutuhan Refinancing Jadi Motor Obligasi Korporasi, Emisi Bisa Tembus Rp 180 Triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek penerbitan obligasi korporasi pada akhir tahun 2026 hingga awal 2027 diyakini tetap menjanjikan. Tingginya kebutuhan emiten untuk melakukan pembiayaan kembali (refinancing) akan menjadi penyokong utama yang mendorong laju emisi surat utang di tengah dinamika imbal hasil obligasi negara.

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy memproyeksikan bahwa tren pasar surat utang korporasi secara keseluruhan masih berada pada jalur yang positif, meski pertumbuhannya ke depan akan berjalan lebih selektif akibat beban biaya pendanaan yang dirasa masih membebani emiten.

Berdasarkan data Pefindo, realisasi penerbitan obligasi korporasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencapai Rp 139,65 triliun.


Baca Juga: IHSG Menguat 0,29% pada Rabu (14/10), Waspadai Tekanan Jual dan Sentimen Global

Capaian tersebut mengindikasikan adanya kontraksi sebesar 12,75% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Kendati demikian, prospek penambahan nilai emisi di ujung tahun diyakini tetap cerah lantaran ditopang oleh banyaknya obligasi jatuh tempo senilai Rp 43,56 triliun.

Hal inilah yang memperkuat estimasi Pefindo bahwa total penerbitan hingga akhir tahun 2026 berpeluang menembus rentang Rp 175 triliun hingga Rp 180 triliun.

"Kebutuhan pembiayaan kembali (refinancing) menjadi motor utama penerbitan pada kuartal IV 2026," tegas Budi kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).

Katalis positif tersebut juga diamini oleh Chief Dealer Fixed Income & Derivatives PT Bank Negara Indonesia Tbk Fudji Rahardjo.

Ia memandang masih tersedia ruang penerbitan yang cukup memadai di sisa tahun ini. Hal tersebut sejalan dengan proyeksi konsensus pasar yang mengestimasi total emisi obligasi secara setahun penuh bisa bertengger di kisaran Rp 160 triliun sampai Rp 175 triliun.

Kewajiban pelunasan utang mendesak korporasi untuk kembali mencari kantong-kantong pendanaan segar dari pasar modal.

"Prospek obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 dan awal tahun 2027 berpotensi tetap kuat, didukung kebutuhan refinancing," ungkap Fudji Kontan, Rabu (14/10/2026).

Jika ditelisik lebih rinci, penerbitan surat utang korporasi saat ini paling banyak dikontribusikan oleh emiten di sektor pembiayaan konsumen (consumer financing).

Baca Juga: Investor Asing Ramai Borong Saham HMSP, Cermati Rekomendasi Analis

Hingga September 2026, sektor tersebut kokoh memimpin dengan catatan outstanding mencapai Rp 34 triliun, disusul oleh sektor industri kertas yang mengekor dengan total outstanding sebesar Rp 22 triliun.

Ke depannya, minat emiten untuk menerbitkan obligasi juga akan sangat sensitif terhadap tren pergerakan imbal hasil atau yield Surat Utang Negara (SUN).

Dinamika yield acuan ini dapat membuka celah strategis bagi korporasi untuk meraup dana dengan bunga yang lebih efisien.

Arah pergerakan yield tersebut bakal banyak ditentukan oleh sentimen geopolitik global, ketahanan makroekonomi, serta selera risiko investor (risk appetite).

Sementara itu, kondisi pasar obligasi pada tahun 2027 akan sangat bergantung pada seberapa jauh stabilitas nilai tukar rupiah dapat terjaga dan kelanjutan arah kebijakan pemangkasan suku bunga acuan dari Bank Indonesia (BI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News