Kecerdasan Buatan Mendorong Kampus Tinggalkan Model Pembelajaran Konvensional



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong perguruan tinggi di berbagai negara meninjau kembali model pendidikan yang selama ini berfokus pada penguasaan teori dan metode pembelajaran konvensional.

Kampus dinilai tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan akademik. Para alumni itu juga harus mampu beradaptasi terhadap perubahan teknologi dan menciptakan inovasi.

Presiden Eksekutif Xi'an Jiaotong-Liverpool University (XJTLU), Youmin Xi kepada South China Morning Post (SCMP) mengatakan, kampus masa depan perlu membantu mahasiswa menghubungkan pendidikan, teknologi, industri, dan masyarakat.


Menurut Xi, tantangan global yang semakin kompleks tidak dapat diselesaikan melalui satu disiplin ilmu semata. Maka, perguruan tinggi perlu membangun sistem pendidikan yang lebih adaptif, lintas disiplin, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Perubahan tersebut terjadi di tengah pesatnya perkembangan AI generatif yang mulai memengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan tinggi. Teknologi tersebut memunculkan perdebatan mengenai integritas akademik, metode pembelajaran, hingga keterampilan yang dibutuhkan lulusan di masa depan.

Di sejumlah negara, perguruan tinggi masih membatasi penggunaan AI karena dikhawatirkan mendorong praktik plagiarisme dan ketergantungan teknologi. Namun sebagian negara mulai mengambil pendekatan berbeda dengan memasukkan AI ke dalam sistem pendidikan.

Reuters melaporkan, Pemerintah China mendorong pemanfaatan AI sebagai bagian dari reformasi pendidikan nasional. Kementerian Pendidikan China menyatakan, kecerdasan buatan akan diintegrasikan ke dalam pengajaran, buku pelajaran, dan kurikulum sekolah. Tujuannya meningkatkan literasi teknologi dan kemampuan digital generasi muda.

Kebijakan tersebut menunjukkan pergeseran pendekatan dari pembatasan menuju pemanfaatan AI sebagai bagian dari proses belajar. Perguruan tinggi pun menghadapi tuntutan untuk mempersiapkan lulusan yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi.

Xi menilai pelarangan penggunaan AI di lingkungan kampus tidak serta-merta menyelesaikan persoalan ketergantungan terhadap teknologi. "Yang pertama, ubah proses pembelajaran saat ini," ujarnya, Rabu (24/6). 

Baca Juga: CSEM Swiss Ahli Jam Hingga Panel Surya, Buka Peluang Kerjasama dengan Asia Tenggara

Menurut dia, mahasiswa perlu dibekali literasi digital, pemahaman etika AI, serta kemampuan memanfaatkan teknologi sesuai bidang keilmuan masing-masing. Mahasiswa juga perlu memahami batasan penggunaan AI agar teknologi tersebut tidak menggantikan proses berpikir kritis.

Xi mengatakan kemampuan yang paling dibutuhkan di era AI bukan sekadar penguasaan teknologi, melainkan kemampuan berimajinasi, menciptakan ide baru, dan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu. "Itu lebih penting buat masa depan," katanya.

Untuk mendukung kemampuan tersebut, XJTLU menerapkan pembelajaran berbasis pengalaman dengan melibatkan industri dalam proses pendidikan. Mahasiswa mendapat kesempatan menyelesaikan persoalan nyata yang dihadapi perusahaan melalui proyek dan kolaborasi lintas disiplin.

Menurut Xi, proses belajar perlu bergeser dari metode tradisional yang berpusat pada ceramah dan hafalan menuju pembelajaran berbasis pengalaman. Pendekatan tersebut dinilai mampu membantu mahasiswa menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri.

XJTLU aktif menjaring mahasiswa dari luar China. Indonesia merupakan pasar internasional terkuat bagi XJTLU dengan sekitar 700 mahasiswa.  per 1 Juni, untuk intake September 2026, total aplikasi dari Indonesia sudah melonjak mencapai 1.500 pendaftar. Menguasai 38% dari total keseluruhan aplikasi mahasiswa internasional.

Sejumlah universitas terkemuka di Tiongkok mulai memperluas penerimaan mahasiswa pada program kecerdasan buatan dan bidang strategis lainnya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja masa depan.

Perdebatan mengenai AI di dunia pendidikan pun mulai bergeser. Jika sebelumnya fokus tertuju pada risiko penyalahgunaan teknologi, kini banyak perguruan tinggi mulai mencari cara agar AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus mempersiapkan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, perguruan tinggi menghadapi tantangan untuk menjaga integritas akademik sekaligus memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan yang sulit digantikan mesin. Seperti kreativitas, pemikiran kritis, dan kemampuan menghubungkan berbagai bidang pengetahuan.