KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital membuka peluang pengembangan solusi di sektor pendidikan, pelestarian budaya, hingga pengelolaan lingkungan. Pengembangan teknologi ini juga membutuhkan pemahaman terhadap aspek sosial dan perilaku manusia agar inovasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Faculty of Humanities Binus University mengembangkan pendekatan tersebut melalui riset digital humanities yang menghubungkan teknologi dengan berbagai bidang ilmu. Fokus kajiannya mencakup pemanfaatan AI, psikologi digital, pendidikan, seni dan budaya, hingga ekonomi politik teknologi. Dekan Faculty of Humanities Binus University, Elisa Carolina Marion mengatakan, perkembangan teknologi perlu diimbangi pemahaman terhadap kebutuhan manusia dan lingkungan. "Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, inovasi tidak hanya berorientasi pada kemajuan teknologi itu sendiri, tetapi juga pada manusia dan lingkungan,” ujar Elisa. Baca Juga: Okupansi Gudang Modern Jabodetabek Tembus 97%, Ruang Kosong Makin Terbatas Penerapan digital humanities terlihat dalam sejumlah proyek. Mulai dari aplikasi puisi dan literasi digital, eksplorasi budaya Nusantara berbasis AI, tur museum virtual, hingga platform pembelajaran bahasa. General Chair CoDHES 2026, Miranda Paulina Tahalele mengatakan, pengetahuan lokal Indonesia dapat menjadi sumber perspektif untuk pengembangan riset lintas disiplin. "Kami ingin membuka ruang dialog dan kolaborasi agar pengetahuan tersebut dapat terus dikembangkan melalui penelitian lintas disiplin dan pemanfaatan teknologi digital,” kata Miranda. Pengembangan digital humanities menjadi bagian dari riset Faculty of Humanities BINUS University selama lima tahun terakhir. Pendekatan ini menghubungkan teknologi digital dengan kajian kemanusiaan, termasuk pendidikan, budaya, dan lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News