Kecil kemungkinan terjadi sell in May di pasar saham tahun ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memasuki periode perdagangan Mei pada pekan depan. Bulan Mei merupakan bulan yang selalu dikaitkan dengan ramainya aksi jual pelaku pasar, hingga muncul istilah sell in May.

Sejak 2011 hingga tahun lalu, rata-rata imbal hasil atawa return IHSG di Mei memang minus 0,67%. Namun, return negatif ini lebih karena volatilitas indeks di bulan tersebut, sehingga ketika terjadi penurunan, nilainya cukup besar.

Sedangkan secara tren, tercatat hanya penurunan pada Mei hanya terjadi selama lima periode. Selebihnya, indeks positif.


Michael Setjoadi, Vice President RHB Sekuritas menyebut, jargon sell in May sejatinya muncul akibat ex-dividend. Investor kebanyakan menjual saham setelah sebelumnya memanfaatkan momen dividen. Terlebih, rata-rata yield dividen hingga periode ini sebesar 2%-3%.

Baca Juga: BEI mengantongi 22 pipeline IPO

Namun, sell in May tahun ini kecil kemungkinannya untuk terjadi. Beberapa jadwal ex-dividend mundur akibat deadline pelaporan keuangan yang lebih lama. Sehingga kemungkinan aksi jual akibat ex-dividend baru terjadi pada Juni. Selain itu, ada beberapa faktor yang bisa menahan potensi penurunan indeks bulan depan.

Menurut Michael, IHSG bulan depan masih cenderung sideways. "Tapi, ada sedikit strong support, sehingga tidak terjadi sell in May di bulan ini," ujar Michael kepada Kontan.co.id, Kamis (29/4).

Skala regional, kondisi politik di Indonesia lebih stabil dibanding Malaysia dan Thailand. Omnibus law juga masih bisa menjadi peluru untuk mendorong investasi asing masuk.

Baca Juga: Ekonomi Membaik, Tak Perlu Khawatir Ada Sell In May

Meski begitu, sejumlah faktor yang berpotensi menekan IHSG tidak bisa dikesampingkan. Pergerakan inflasi Amerika Serikat (AS) dan US Treasury bond sejatinya mengindikasikan membaiknya perekonomian global. 

Namun, kondisi tersebut justru bisa berbalik pada melemahnya rupiah. Pelemahan rupiah hampir selalu disertai oleh penurunan IHSG.

Michael menambahkan, kasus Covid-19 masih menjadi perhatian utama. Dikhawatirkan, kasus kembali meningkat setelah libur lebaran. Kenaikan kasus berarti semakin lama waktu yang dibutuhkan bagi perekonomian untuk pulih. Dia memperkirakan, IHSG bulan Mei akan bergerak pada rentang 5.900-6.000.

Baca Juga: Tertopang rilis kinerja emiten kuartal I, IHSG diprediksi lanjut menguat besok (30/4)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati