Kedelai dan jagung impor penyebab MAIN gempor



JAKARTA. Tahun Kuda ini menjadi tahun yang sulit bagi PT Malindo Feedmil Tbk (MAIN). Bagaimana tidak, perusahaan yang bergerak di industri pakan ternak ini membukukan penyusutan laba bersih hingga 92,35% menjadi Rp 18,53 miliar selama sembilan bulan di 2014.

Atas perolehan tersebut, tak salah jika MAIN didaulat menjadi salah satu perusahaan yang kinerjanya paling merosot. Hal tersebut tercermin dalam laporan keuangan perseroan di kuartal III-2014.

Meski pendapatan naik 9,23% year on year (yoy) menjadi Rp 3,39 triliun, laba MAIN meluncur 92,35%  menjadi Rp 18,53 miliar. Pada periode yang sama tahun lalu, perseroan meraih laba bersih hingga Rp 242,28 miliar.


Jika menilik lebih dalam, penurunan laba itu akibat beban pokok penjualan MAIN yang terkerek 21,91% yoy menjadi Rp 3,06 triliun.

Analis Ciptadana Securities, Andre Varian mengatakan, salah satu biang kerok penurunan laba bersih adalah pelemahan kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dampaknya, harga kedelai dan jagung sebagai bahan baku pakan ternak naik. "Hingga kini kedelai dan jagung masih impor jadi membuat cost perusahaan naik," ungkapnya.

Sejauh ini MAIN masih mengandalkan penjualan pakan ternak sebagai pendapatan utamanya.

Herman Koeswanto, analis Mandiri Sekuritas, dalam risetnya pada 3 November 2014 mengatakan, human error ikut menekan kinerja MAIN. Kesalahan proses pencampuran produksi pakan ternak di pabrik Gresik, Jawa Timur mengakibatkan pengerjaan ulang sebanyak 1.800 metrik ton (MT). Alhasil, pelanggan juga mempermasalahkan kualitas produk MAIN.

Dampak BBM

Andre mencatat saat ini pangsa pasar MAIN di bisnis pakan ternak sekitar 8%-9%. Sedangkan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menguasai 24% dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menguasai 32%.

Sementara bisnis bibit ayam alias day old chicken (DOC), perseroan kian lesu. Menurut Andre, harga DOC terus menurun setiap bulannya di 2014. Pada September lalu harga DOC mencapai Rp 2.000 per ekor. Bahkan di Oktober lalu harga DOC Rp 700 per ekor.  Padahal di kuartal III tahun lalu, penjualan DOC dihargai Rp 4.739 per ekor.

Analis Reliance Securities Robertus Yanuar Hardy bilang, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bakal membuat kinerja MAIN semakin berat. "Harga BBM naik, pasti akan ada kenaikan upah pegawai, tarif listrik naik, dan biaya transportasi juga naik," jelasnya.

Nah, mengenai ekspor ayam ke Jepang, para analis menilai, pengaruhnya tak besar terhadap MAIN. Argumennya, yang diekspor adalah produk olahan seperti nuget, bakso, sosis, sate ayam (kitori) dan daging ayam (karage). Andre menilai, MAIN belum siap.  

Herman memperkirakan, pendapatan MAIN tahun ini sebesar Rp 4,76 triliun dan laba bersih Rp 56 miliar.

Andre dan Robertus merekomendasikan hold saham MAIN dengan proyeksi harga wajar Rp 2.350 dan Rp 2.500 per saham. Herman merekomendasikan sell dengan hitungan harga wajarnya Rp 2.100. Pada penutupan perdagangan bursa Rabu (26/11), harga MAIN turun 0,21% ke Rp 2.410 per saham.             

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie