Kegembiraan Sementara: Gencatan Senjata AS-Iran Terganggu Serangan Israel dan Teheran



KONTAN.CO.ID - Kegembiraan atas gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memudar pada Rabu (8/4/2026), ketika pertempuran masih berlangsung di beberapa wilayah.

Melansir Reuters, Israel melancarkan serangan terbesarnya terhadap Lebanon, sementara Iran menyerang fasilitas minyak di negara-negara tetangga Teluk.

Baca Juga: Data Satelit NASA: Malam Bumi Semakin Terang, Tapi Ada Wilayah yang Redup


Pasar keuangan dunia sempat menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan itu pada Selasa malam, dua jam sebelum tenggat waktu yang ditetapkannya bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz yang diblokade, atau menghadapi ancaman “kehancuran seluruh peradaban”.

Meskipun AS dan Israel menghentikan serangan terhadap Iran, Israel meningkatkan operasi militer di Lebanon, meluncurkan serangan terberat yang memunculkan kolom asap besar di atas Beirut saat bangunan runtuh.

Menteri Kesehatan Lebanon melaporkan puluhan orang tewas dan ratusan luka-luka. Beberapa serangan dilaporkan dilakukan tanpa peringatan evakuasi bagi warga sipil.

Media Iran, Tasnim, mengutip sumber anonim yang memperingatkan bahwa Iran akan menarik diri dari gencatan senjata jika serangan terhadap Lebanon terus berlanjut.

Beberapa jam setelah gencatan senjata disepakati, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain melaporkan serangan rudal dan drone baru dari Iran, yang menargetkan infrastruktur vital seperti fasilitas minyak, listrik, dan desalinasi.

Iran juga menyerang Jalur Pipa Timur-Barat Saudi yang menuju Laut Merah, jalur penting yang memungkinkan sebagian minyak melewati Selat Hormuz yang diblokade.

Baca Juga: TikTok Investasi 1 Miliar Euro untuk Bangun Data Center Kedua di Finlandia

Pembicaraan Diplomatik

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan bahwa delegasi AS dan Iran diundang untuk bertemu di Islamabad pada Jumat, dan Presiden Iran telah mengonfirmasi kehadiran delegasinya.

Delegasi Iran diperkirakan dipimpin oleh Ketua Parlemen dan mantan Komandan Garda Revolusi Mohammad Baqer Qalibaf, serta Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

Trump mengatakan pembicaraan tatap muka akan segera berlangsung, namun Wakil Presiden JD Vance mungkin tidak hadir karena alasan keamanan, berbeda dengan laporan media sebelumnya yang menyebutnya memimpin delegasi AS.

Baca Juga: Gencatan Senjata AS-Iran Tak Serta-Merta Pulihkan Industri Penerbangan Global