Kehilangan momentum, Indeks Manufaktur Indonesia ke level terendah lima bulan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aktivitas manufaktur Indonesia melambat ke level terendahnya dalam lima bulan terakhir. Berdasarkan laporan Nikkei dan IHS Markit, Senin (3/12), Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada level 50,4 pada November, turun dari capaian bulan sebelumnya sebesar 50,5.

Kepala Ekonom di IHS Markit Bernard Aw mengatakan sektor manufaktur Indonesia kehilangan momentum di pertengahan kuartal keempat.

“Perkiraan jangka pendek masih tidak jelas karena survei menunjukkan tanda-tanda penurunan kondisi permintaan. Arus permintaan baru secara umum stagnan, dengan penjualan ekspor masih menurun," ujar Bernard dalam keterangan resmi, Senin (3/12).


Data survei bulan November yang dirilis Nikkei tersebut menyoroti perpaduan beberapa faktor di balik melemahnya aktivitas sektor manufaktur Indonesia. Di antaranya, penguatan dolar, cuaca buruk, dan berkurangnya pasokan yang mempengaruhi aktivitas manufaktur di seluruh Indonesia.

Tanda lainnya yang menunjukkan penurunan permintaan klien, menurut Nikkei, bersumber dari faktor eksternal. Permintaan total secara umum sepanjang November pun tidak berubah dari bulan sebelumnya, namun penjualan ekspor menurun selama dua belas bulan berturut-turut.

"Perusahaan menahan pembelian input, yang menyebabkan kuantitas pembelian secara umum tidak berubah sehingga inventori input mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam lima bulan," lanjut Bernard.

Meski penjualan menurun, produksi terus bertumbuh meski pada kisaran sedang. Namun, rantai pasokan tercatat semakin memanjang karena gangguan cuaca dan kekurangan bahan baku sehingga menghambat upaya distribusi.

Lantas, kinerja vendor memburuk sehingga memperpanjang tren penundaan waktu pengiriman ke periode hampir satu setengah tahun.

Adapun, produsen barang Indonesia terus menghadapi beban biaya yang besar pada bulan November. Meski melambat dari Oktober, inflasi harga input masih tergolong tajam.

Menurut Nikkei, hal ini berkaitan dengan penguatan dolar dan kekurangan pasokan. Dalam upaya melindungi margin, perusahaan pun terus menaikkan biaya output mereka.

“Tekanan inflasi yang kuat masih menjadi penyebab utama karena perusahaan dihadapkan pada kenaikan biaya input sementara permintaan menurun. Penguatan dollar AS, kenaikan harga komoditas global, dan kekurangan pasokan terkait cuaca menyumbang pengaruh terhadap inflasi," kata Bernard.

Kendati demikian, Nikkei menyatakan kepercayaan diri terhadap perkiraan output Indonesia di tahun mendatang masih bertahan positif. Optimisme tersebut berdasarkan keyakinan adanya peluncuran produk baru, investasi modal, kenaikan proyeksi penjualan, dan aktivitas promosi.

"Prospek jangka panjang masih menjanjikan, dengan perusahaan secara umum mengharapkan kenaikan output pada tahun mendatang," tandas Bernard.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto