KONTAN.CO.ID – LONDON. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, mengumumkan akan mengundurkan diri dari jabatannya. Penggantinya ditargetkan sudah terpilih sebelum parlemen kembali bersidang pada September mendatang. Keputusan tersebut membuka jalan bagi Inggris untuk memiliki perdana menteri ketujuh dalam satu dekade terakhir, sebuah tingkat pergantian kepemimpinan yang mencerminkan tingginya dinamika politik pasca-Brexit. Pengumuman itu disampaikan kurang dari dua tahun setelah Starmer meraih kemenangan telak dalam pemilu yang saat itu diharapkan dapat mengakhiri periode ketidakstabilan politik di Inggris.
Namun, Starmer mengakui bahwa dukungan terhadap kepemimpinannya di internal partai telah melemah. "Pertanyaan yang diajukan partai saya saat ini adalah apakah saya masih orang yang paling tepat untuk memimpin kami menuju pemilihan umum berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari fraksi parlemen partai saya atas pertanyaan tersebut, dan saya menerima jawaban itu dengan lapang dada," ujar Starmer.
Baca Juga: Jepang Ubah Strategi Komunikasi, Pasar Waspadai Intervensi Yen Mendadak Ia menambahkan bahwa proses pencalonan pemimpin baru akan dibuka pada 9 Juli mendatang.
Andy Burnham Muncul Sebagai Kandidat Terkuat
Nama yang paling banyak disebut sebagai pengganti Starmer adalah Andy Burnham, yang saat ini menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester. Tekanan terhadap Starmer sebenarnya telah berlangsung selama berbulan-bulan, namun meningkat tajam setelah Burnham meraih kemenangan meyakinkan dalam pemilihan parlemen pada Jumat (19/6/2026). Kemenangan tersebut mengantarkan Burnham kembali ke Westminster setelah mengalahkan kandidat dari Nigel Farage dan partainya, Reform UK, yang selama lebih dari setahun memimpin berbagai survei opini nasional. Keberhasilan Burnham memunculkan harapan baru di kalangan anggota parlemen dari Partai Buruh. Mereka menilai politisi senior yang dikenal memiliki kemampuan komunikasi yang kuat tersebut mampu membalikkan kondisi partai yang kehilangan dukungan publik selama masa kepemimpinan Starmer. Popularitas Starmer sendiri tercatat merosot hingga mencapai level terendah yang pernah dialami seorang pemimpin Inggris dalam berbagai survei opini. Dalam pidato pengunduran dirinya, Starmer menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan partainya atas dukungan yang telah diberikan. Dengan suara yang bergetar menahan emosi, ia juga memberikan penghormatan kepada istri dan anak-anaknya.
Pasar Keuangan Tetap Tenang
Pengumuman pengunduran diri Starmer tidak memicu gejolak berarti di pasar keuangan. Nilai tukar pound sterling maupun obligasi pemerintah Inggris relatif stabil setelah pengumuman tersebut. Stabilitas pasar terjadi karena sebagian besar investor telah memperkirakan skenario pergantian kepemimpinan ini sebelumnya. Meski demikian, proses transisi kepemimpinan tetap mengandung risiko.
Baca Juga: AS dan Iran Merampungkan Pembicaraan Tingkat Tinggi di Swiss Hingga saat ini, Burnham belum menjelaskan secara rinci arah kebijakannya terkait hubungan luar negeri, ekonomi, maupun pertahanan. Selain menekankan perlunya perubahan mendasar dan upaya menurunkan biaya hidup masyarakat, belum banyak rincian kebijakan yang disampaikan. Para analis menilai Burnham kemungkinan akan menghadapi tantangan yang sama dengan Starmer, yakni ruang fiskal yang terbatas akibat tekanan pasar obligasi dan tingginya ekspektasi publik terhadap perbaikan kondisi ekonomi.
Tantangan Ekonomi Inggris Semakin Berat
Inggris saat ini menghadapi biaya pinjaman tertinggi di antara negara-negara anggota G7. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh tingginya utang pemerintah, beban pembayaran bunga, pertumbuhan ekonomi yang lemah selama bertahun-tahun, kesulitan memangkas belanja negara, serta kebutuhan investasi yang besar di sektor-sektor strategis seperti pertahanan. Pandangan investor terhadap kemungkinan kepemimpinan Burnham masih terbelah. Sebelumnya, pada September tahun lalu, Burnham sempat menyatakan bahwa Inggris perlu keluar dari kondisi: "terlalu bergantung pada pasar obligasi." ujarnya. Namun, Burnham kemudian menegaskan bahwa pernyataannya tersebut telah disalahartikan. Ekonom dari Citibank menilai pemerintahan Burnham nantinya akan menghadapi situasi fiskal yang sulit. "Menurut pandangan kami, pemerintahan Burnham akan mewarisi kondisi fiskal yang rapuh dengan sangat sedikit instrumen yang tersedia untuk menghadirkan perubahan yang berarti," tulis ekonom Citibank dalam laporan mereka pada Jumat lalu.
Baca Juga: PM Bangladesh Minta Malaysia Buka Kembali Pasar Tenaga Kerja Bagi Pekerja Bangladesh Inggris Kembali Menghadapi Pergantian Kepemimpinan
Sebelum pengumuman pengunduran dirinya, Starmer sempat menyatakan siap mengikuti kontestasi kepemimpinan Partai Buruh apabila ada upaya formal untuk menggantikannya. Namun, sikap tersebut tampaknya berubah selama akhir pekan.
Siapa pun yang terpilih menggantikan Starmer nantinya akan menjadi perdana menteri ketujuh Inggris sejak referendum Brexit yang memutuskan keluarnya Inggris dari European Union pada 2016. Tingkat pergantian pemimpin yang sangat tinggi ini menjadi gambaran tantangan besar yang dihadapi pemerintah Inggris dalam mempertahankan dukungan publik. Pemilih masih merasa frustrasi terhadap kegagalan berbagai pemerintahan sebelumnya dalam meningkatkan standar hidup, memperbaiki layanan publik, dan mengendalikan imigrasi ilegal. Lembaga konsultan politik Eurasia Group sebelumnya menilai skenario terbaik adalah jika Starmer mengumumkan pengunduran dirinya efektif pada September. Langkah tersebut akan memberinya kesempatan menghadiri pertemuan puncak Inggris-Uni Eropa pada Juli sekaligus memberikan waktu bagi Burnham untuk mempersiapkan transisi pemerintahan. Dengan proses pergantian kepemimpinan yang kini mulai berjalan, perhatian publik dan pelaku pasar akan tertuju pada arah kebijakan yang akan diambil pemimpin baru Inggris di tengah tantangan ekonomi dan politik yang semakin kompleks.