KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Perkebunan Nusantara I (PTPN I) tengah melakukan ekstensifikasi lahan tebu di Pulau Jawa dan Sulawesi sebagai upaya mendukung target swasembada gula konsumsi pada 2027. Sekretaris Perusahaan PTPN I, Aris Handoyo, menjelaskan bahwa perusahaan berupaya meningkatkan produksi gula nasional melalui subholding PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN/Sugar Co) dengan sejumlah strategi, salah satunya ekspansi. Adapun pengembangan areal tebu diprioritaskan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sulawesi. Lokasi tersebut, kata Aris, dipilih dengan pertimbangan nilai ekonomi.
Pasalnya, pengembangan tebu di wilayah seperti Sumatra dinilai kurang kompetitif dibandingkan komoditas lainnya.
Baca Juga: Program Bongkar Ratoon Dinilai Dongkrak Produksi Tebu dan Pasokan Industri Gula "Sumatra mungkin agak sulit karena secara perhitungan hampir sama, tapi lebih menguntungkan komoditas sawit secara ekonomis. Maka pengembangan dari areal tebu ini kita kembangkan di Jawa Timur, Jawa Tengah, sedikit Jawa Barat, dan juga di Sulawesi," katanya kepada Kontan dalam media gathering di Jakarta, Senin (15/6/2026). Aris menyatakan realisasi penambahan areal tebu masih bergerak setiap hari seiring proses pengembangan yang terus berjalan. Dus, PTPN I belum dapat mengungkapkan target luasan ekspansi yang akan dicapai. "Karena pengembangannya bertambah hampir setiap hari untuk luas areal baik di Jawa maupun Sulawesi," kata Aris. Selain ekspansi, ia menyebut perusahaan juga memperkuat operasional bisnis gula melalui akuisisi Pabrik Gula Rajawali Nusantara. Di mana, pabrik tersebut kini sepenuhnya telah berada di bawah konsolidasi PT SGN. Dengan begitu, optimalisasi operasional dapat dilakukan perusahaan secara lebih mudah dan efektif. Tak sampai di situ, dari sisi budidaya, PTPN I juga melakukan intensifikasi areal lahan tebu guna meningkatkan produktivitas.
Baca Juga: Dongkrak Produksi Nasional, Kementan Perdana Sebarkan Benih Unggul Tebu Asal KBD "Tentu hal ini berkaitan dengan bagaimana kita menggunakan varietas-varietas unggulan tebu di situ," imbuh Aris. Langkah lainnya, PTPN I juga berkoordinasi intens dengan PT Pupuk Indonesia untuk memastikan keamanan stok pupuk dan ketepatan waktu penyalurannya untuk areal milik perusahaan maupun petani mitra. Aris menyoroti, waktu aplikasi pupuk menjadi penting dalam meningkatkan kualitas tebu. "Karena kalau pupuknya diberikan menjelang panen, efeknya tentu tak akan bisa dirasakan oleh tanaman tersebut. Kalau pas (tepat) waktu pupuknya, harapannya di saat sebelum digiling, tebu akan memiliki kandungan nira yang tinggi sehingga rendemennya juga tinggi," ujarnya. Menurut Aris, peningkatan rendemen nantinya tak hanya menguntungkan perusahaan, tapi juga untuk pendapatan petani tebu rakyat.
Ia menambahkan, PTPN I berharap dengan sejumlah langkah ini Indonesia tak hanya mencapai target swasembada gula. Namun, kinerja ekspor gula Tanah Air diharapkan dapat ikut mendulang untung ke depan.
Baca Juga: Petani Tebu Ungkap Kerugian Besar di Balik Impor Bioetanol dari AS "Dengan begitu, harapannya gula konsumsi bisa swasembada dulu, baru setelah itu kita bisa menambah untuk gula industri. Ekspor juga bisa dioptimalkan," imbuhnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News