Kejatuhan poundsterling yang masih misterius



TOKYO. Poundsterling Inggris terpukul hebat pada Jumat (7/10) kemarin. Tidak tanggung-tanggung, pelemahan poundsterling mencapai 6% dalam hitungan menit.

Kejutan ini terjadi pada transaksi perdagangan pagi di Asia. Kondisi itu menyebabkan investor kaget dan tercengang. Analis berpendapat, pelemahan terjadi akibat kesalahan pada program transaksi perdagangan.

"Pada saat itu transaksi perdagangan di Asia cukup tenang. Lalu tiba-tiba, Bang! Semua lampu menyala merah," kata Matt Simpson, senior market analyst ThinkMarkets di Singapura.


Sehari sebelumnya, poundsterling sudah terjungkal ke posisi terlemah dalam 31 tahun di kisaran US$ 1,26. Pelemahan tersebut terjadi seiring kecemasan pelaku pasar mengenai dimulainya proses hengkangnya Inggris dari Uni Eropa akan memukul perekonomian negeri Ratu ELizabeth itu.

Analis memang meramal, poundsterling akan melemah akibat isu tersebut. Namun, mereka tidak menyangka pelemahannya akan sebesar itu dalam kurun waktu yang singkat.

Anjloknya nilai tukar mata uang poundsterling sebenarnya dapat mengerek kinerja eksportir Inggris dan perusahaan yang pendapatannya tergantung dari luar negeri.

Di sisi lain, harga barang-barang impor menjadi sangat mahal. Sebut saja iPhone 7 dan bahan bakar pesawat. Selain itu, biaya pinjaman oleh pemerintah Inggris menjadi sangat mahal dan warga Inggris yang tinggal di luar negeri akan merasakan dampak negatifnya.

Berdasarkan data yang dirilis Factset, mata uang Inggris keok mendekati level US$ 1,18. Tak lama setelah itu, posisi poundsterling beranjak pulih dan diperdagangkan di kisaran US$ 1,23.

Mengapa poundsterling terpukul?

"Anda melihat prediksi enam bulan mendatang dalam enam menit," kata Simpson. Sebelumnya, pada awal pekan lalu, dia meramal poundsterling akan melemah ke posisi US$ 1,20 pada April mendatang.

Para analis berspekulasi, pelemahan ekstrem dapat disebabkan oleh kesalahan pada program trading komputer, human error atau pemain besar yang mengambil langkah besar.

"Berupaya menemukan pemicu pelemahan poundsterling akan sangat sulit. Yang kita ketahui dengan pasti adalah ada banyak investor yang mengalami kerugian besar dari kondisi ini," jelas Simpson.

Jeffrey Halley, senior market analyst online broker Oanda mengatakan, dia meyakini pelemahan poundsterling dipicu oleh pernyataan dari Presiden Prancis Francois Hollande yang menegaskan negosiasi Brexit akan sangat sulit.

Pernyataan ini cukup mampu menekan poundsterling ke bawah level kunci US$ 1,26, sehingga terjadi aksi jual yang agresif dalam waktu singkat.

Sejumlah pengamat market mengatakan, kondisi perdagangan sangat kacau di mana sejumlah penyedia data menyajikan angka yang berbeda atas nilai terendah poundsterling. Berdasarkan data Halley, posisi terendah poundsterling berada di level US$ 1,13.

Para pemimpin Eropa sebelumnya menegaskan bahwa jika Inggris tidak memperbolehkan pergerakan bebas warga Uni Eropa di wilayah perbatasan, Inggris akan kehilangan haknya untuk mengakses area perdagangan bebas.

Saat ini, poundsterling sudah melemah lebih dari 16% sejak warga Inggris memilih untuk hengkang dari Uni Eropa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie